Satu Rasa: Suasana Hangat bersama Catur Aksa Creative dari Lereng Tengger
oleh Anang Novianto
Tengger, 18 Mei 2025, Di tengah dinginnya udara pegunungan dan selimut kabut yang turun perlahan, sekelompok seniman dan pegiat budaya berkumpul di Tanalayu Café & Homestay, kawasan Tengger Desa Ngadiwono Tosari Pasuruan, dalam sebuah acara bertajuk Satu Rasa: Klumpuk, Sinau, Seneng-Seneng. Kegiatan ini diinisiasi oleh komunitas Catur Aksa Creative sebagai ruang bertemu, berekspresi, dan berbagi gagasan lintas generasi dan disiplin seni.
Live Musik, Drawing dan Langsung Pameran
Acara yang dimulai sejak sore itu diawali dengan penampilan jamming musik akustik, digital looping, dan performance art. Dilanjutkan kegiatan menggambar bersama. Meski sesekali diguyur gerimis, para seniman dari sekitar Tengger hingga luar kota tetap antusias mencurahkan ekspresi mereka di atas kertas. Satu demi satu partisipan berdatangan, memenuhi halaman parkir dan menambah semangat dalam udara yang semakin dingin.

Beragam ekspresi tercurah dalam selembar kertas linen berukuran A4, beberapa menggambar objek atau lanscape sekitar, keresahan, ragam hias, ekspresif, impresi sekitar, dan bahkan merespon kopi yang tumpah pada kertas. Kesemuanya dipajang tergantung menggunakan peniti pada tiga utas kawat melintang.

Diskusi Seni Menghangatkan Kebersamaan di Tengah Kabut Pegunungan
Kegiatan berlanjut ke diskusi seni yang dipandu oleh Mahbub Fauqo (akrab disapa Frau) dan menghadirkan Yudha Prihartanto, seniman sekaligus pengajar dari Kota Pasuruan, sebagai pemantik. Topik yang diangkat sederhana namun reflektif: apakah proses berkesenian di gunung dan di kota berbeda?
“Tidak ada perbedaan yang substansial,” ujar Yudha. “Yang penting bukan di mana, tapi untuk apa seni itu dibuat. Entah untuk komersial, perlawanan, pembebasan, atau kepuasan batin.”

Diskusi mengalir dinamis. Para peserta datang dari beragam latar seni: rupa, musik, film, hingga tradisi. Uniknya, meskipun cara berkarya mereka berbeda-beda, satu benang merah ditemukan: bahwa karya seni adalah bentuk respons terhadap budaya dan kehidupan di Tengger.
Forum Diskusi Saling Melontarkan Pandang
Seorang kepala dusun dari Tosari menambahkan, “Bagi orang gunung, seni adalah cerminan batin. Kalau tidak diungkapkan, rasanya berat. Saya pribadi melampiaskan dengan mengajak anak-anak bermain, karena tidak bisa selalu melukis atau memahat.”
Keresahan pun mencuat dari para pelaku seni tradisi. Mas Jaya, seniman yang konsisten melestarikan Ketipung Tengger, menuturkan bagaimana perjuangannya terus berjalan tanpa banyak dukungan dari lembaga resmi. Hal serupa diungkapkan Gatot, seniman senior dari Pasuruan, yang telah tujuh tahun mengelola sanggar tanpa sentuhan pendanaan dari pemerintah. “Di kota pun nasib seniman bisa serupa,” ujarnya.
Namun berbeda dari keluhan, Yayak justru menunjukkan sisi lain. Ia memilih jalan seni sebagai hobi yang dijalani lepas. Gambar-gambarnya kini dituangkan dalam batik, tak hanya sebagai media ekspresi tapi juga solusi ekonomi. “Berkesenilah! Biarkan orang lain yang menilai,” katanya ringan.
Frau, sebagai moderator, menjelaskan bahwa forum ini lahir dari pertanyaan beberapa seniman soal pameran tunggal Yayak sebelumnya. “Daripada langsung buat pameran besar-besaran, lebih baik kita mulai dari diskusi kecil. Menyatukan frekuensi dulu, baru nanti berpameran bersama.”
Strategi Kolaboratif yang Efektif
Saat diminta pendapat tentang wacana pameran bersama itu, Yudha menekankan pentingnya sinergi. “Bersama saja tidak cukup. Harus kolaboratif dan saling menghargai. Banyak komunitas gagal bukan karena kekurangan ide, tapi karena ego masing-masing,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa seniman bukan dewa yang selalu benar. Seni perlu kontrol, refleksi, dan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Ia memberi contoh Yayak, yang sukses karena tidak hanya menggambar, tapi juga membangun relasi dengan sesama seniman, pasar, dan pemerintah.
Yayak sendiri membenarkan bahwa perjalanan seni tak selalu mulus. “Keluarga saya sempat tak mendukung. Pameran butuh biaya besar. Saya mulai berpikir bagaimana berkesenian sekaligus memberi manfaat untuk keluarga. Batik jadi jawabannya.”
Forum ditutup dengan harapan dan semangat. Melalui komunitas seperti Catur Aksa, seniman-seniman Tengger mulai menyuarakan ide, keresahan, sekaligus solusi. Dalam suasana hangat yang dibangun lewat seni dan bara api unggun, para peserta pulang dengan satu rasa: bahwa seni bisa menjadi jembatan menuju masa depan budaya yang lebih lestari dan inklusif.