Batik Milik Siapa?
Oleh: Muhammad Hafidz As’ad Yusuf Faraby
Pameran Titirasi
Batik Lukis
Bambang Sarasno
“Saya sukanya disitu”.
Itu yang dikatakan Pak Sar ketika mengobrol dengan kami ditengah pengerjaan backdrop untuk pameran.
Pak Sar, yaa.. itu panggilan yang sering diucap orang – orang untuk seniman batik Asal Malang itu. Berkarya batik semenjak masih sekolah, eksplorasi teknik batik beliau tidak bisa diragukan lagi. Tahun 1981 pertunjukkan teater digelar di Taman IndroKilo, Pulosari, Malang. Mengusung proses pembuatan batik keatas panggung dan disaksikan penonton secara langsung.
“Yaopo nggawe batik tapi langsung dadi gasampe sedino?”
Pertanyaan itu yang muncul di dalam pikiran saya, saat Pak Sar bercerita mengenai konsep teater proses batik pada tahun itu. Proses yang panjang dan rumit membuat batik dirasa tidak mungkin untuk ditampilkan langsung dalam satu pertunjukkan tidak sampai satu hari, apalagi berukuran raksasa. Namun pikiran saya terpatahkan dengan pengalaman Pak Sar dalam penguasaan bahan dan teknik batik. Eksperimen yang dilakukan oleh Pak Sar menggunakan bahan pewarna yang sifatnya bereaksi dengan air, membuat warna keluar saat terjadi reaksi kimia pada kain. Membayangkan dari cerita beliau saja sudah terasa menakjubkan pertunjukkan teater itu. Tak terpikir di tahun itu sudah merancang pertunjukkan yang terkonsep dengan rumit.
Perjalanan Artistik Bambang Sarasno

Rasa sukanya pada batik terlahir dari rasa iri semasa kecil kepada kakaknya yang terlebih dahulu mahir dalam hal melukis. Perjalanan panjang membawa Pak Sar untuk mengekspolasi segala macam teknik dan cabang Seni Rupa. Keinginannya untuk menjadi mahir dalam hal melukis membawa Pak Sar untuk masuk dalam sanggar seni.
Pada waktu itu, Pak Sar masih duduk di bangku SMA. Bambang Sarasno kecil ingin sekali mempelajari mengenai teknik melukis di sanggar tersebut. Alih – alih mendapatkan pengajaran mengenai teknik dan teori “kesenirupaan”, Pak Sar justru merasa tak mendapatkan apa yang beliau inginkan di sanggar seni tersebut. Anggota yang terlebih dahulu berada dalam sanggar seni tersebut lebih banyak melakukan adu argumen mengenai teori yang dipelajarinya di bangku perkuliahan. Bambang Sarasno kecil merasa diremehkan dan dianggap “sok tau” ketika bertanya dan ingin menyampaikan pendapat.
Perasaan tak puas yang dirasakan beliau dalam sanggar seni tersebut. Pencarian terus dilakukan Pak Sar untuk menemukan kenyamanannya dalam berkarya seni. Suatu waktu beliau mengikuti workshop berkarya batik di sanggar seni. Beliau yang saat itu frustasi karena merasa kesusahan menguasai seni lukis, timbul ketertarikan pada seni batik setelah mengikuti workshop tersebut. Seperti halnya jati diri, eksplorasinya menemukan titik kenyamanan berkarya yaitu di batik.
Melaksanakan pameran batik pertamanya di bangku SMA, Bambang Sarasno berhasil menarik audiens untuk hadir mengapresiasi karyanya. Namun Pak Sar tak mendapat apresiasi pujian seperti yang ia inginkan.
“Karyanya Bagus”
“Wah cantik sekali batiknya”
Kira – kira seperti itulah kata – kata yang Pak Sar ingin diberikan oleh audiens setelah melihat karyanya. Alih – alih memberikan pujian terhadap karyanya, audiens yang melihat karya batik Pak Sar malah bertanya
“Bagaimana cara membuatnya?”
Pertanyaan yang muncul dari audiens disadari oleh Pak Sar merupakan bentuk apresiasi terhadap karyanya. Kekaguman terhadap karya yang beliau buat menimbulkan pertanyaan di benak audiens. Hal itulah yang membuat Pak Sar merasa berhasil dalam berkarya seni.
Kuliah di Fakultas Hukum dan berprofesi sebagai pengacara, rasanya sangat tidak nyambung dengan hal berkesenian. Dalam wawancara Pak Sar mengatakan, bahwa melalui batik beliau mendapatkan hal yang lebih besar dan dalam , tidak hanya sekedar membuat karya seni. Seperti yang kita tahu, berkarya seni batik memliki proses pembuatan yang rumit dan bertahap hingga hasil akhirnya. Saat beliau berkarya seni batik, mencanting malam, meracik warna, melukis, hingga melorot malam, yang beliau rasakan melalui proses tersebut yaitu dapat belajar banyak hal dibalik tahapan tersebut. Manajemen waktu, manajemen proses, hingga kesabaran dirasakan Pak Sar selama berkarya seni batik. Hal tersebut secara tidak sadar mempengaruhi Pak Sar dikehidupan sehari – hari bahkan saat melakukan pekerjaannya.
“Tapi kenapa beliau menyukai batik padahal prosesnya njelimet?”
Justru itulah yang disukai oleh Pak Sar selama berkarya batik. Proses yang mungkin kita kira njelimet , bagi Pak Sar disitulah letak tantangannya. Seperti kalimat pembuka ulasan ini,
“Saya sukanya disitu”
Menurut beliau, rasa deg – degan dan sport jantung merupakan sensasi yang menarik ketika membuat batik. Ketidaktahuan hasil akhir karya batik yang telah melalui proses panjang menimbulkan rasa deg – degan di jantung Pak Sar. Terutama pada proses melorot kain, proses ini yang akan mereveal hasil akhir karya. Terkadang warna yang muncul berbeda dengan desain awal, bahkan bisa beliau katakan gagal. Rasa deg – degan yang muncul ketika menanti hasil akhir karya merupakan hal yang Pak Sar suka dari berkarya seni batik.
Karya – karya Pak Sar tidak seperti halnya batik yang biasa orang kenal. Bermotif dan kental dengan unsur budaya di berbagai daerah. Unsur tradisi terkadang ingin beliau hilangkan dari visual batik yang dibuatnya. Stigma yang melekat dimasyarakat bahwa batik merupakan produk budaya asli Indonesia, tak sejalan dengan pemikiran Pak Sar.
Dalam sejarahnya, pada abad 4 SM di Mesir terdapat kain linen yang diidentifikasi sebagai kain bermotif dengan cara pembuatan menggunakan teknik batik. Indonesia sendiri mengenal batik karena adanya pengaruh Tiongkok, India, Arab, dan Eropa dengan jalur perdagangan. Kata batik tercatat dalam nota pembelian pada pertengahan abad ke 17. Sehingga batik bukan merupakan produk budaya asli Indonesia, melainkan karena adanya pengaruh pedagang internasional dan dikembangkan sendiri dengan budaya lokal. (Sumber : https://www.batikguild.org.uk/batik/history)
Masyarakat Indonesia banyak yang beranggapan bahwa batik merupakan suatu tradisi, sehingga hal itu dijaga dan disimpan sendiri oleh masyarakat. Banyak yang berpatok pada pakem motif dan filosofi dbaliknya, hal itu yang membuat batik tidak berkembang. Problem ini yang menjadi keresahan Pak Sar selaku seniman yang berkarya seni batik.
“Itu yang ingin saya bagikan”
Kata Pak Sar menanggapi problem pemahaman tentang batik ditengah masyarakat. Batik adalah suatu teknik berkarya seni menutup kain dengan lilin atau bahan penutup lain untuk membentuk motif tertentu. Melalui karya – karyanya Pak Sar ingin membagikan pemahaman tersebut kepada masyarakat luas agar tak berpatok pada tradisi yang melekat pada kata “Batik”.
Pameran “Titirasi”
Pameran dengan tajuk “Titirasi” merupakan pameran beliau yang menampilkan 12 karya batik berukuran besar. Sekitar 2 m x 3 m ukuran setiap karyanya. Proses pengerjaan seluruh karyanya memakan waktu yang lama, dari tahun 2013 beliau memulai mengerjakan karya dengan seri “Zodiak” ini. Bukan waktu yang singkat. Namun Waktu yang dilalui tergambar didalam setiap karya – karyanya.

Salah satu karya berjudul “Sagitarius” berdiri tegak dengan megah didalam Auditorium tempat pameran digelar. Sosok wanita setengah kuda memegang busur panah tergambar didalam karyanya.Dalam Mitologi sering dikenal dengan nama Centaur. Tampak sangar berpose memanah ke atas langit, tetapi masih terihat sangat anggun berbalut pakaian khas Jawa.
Namun “Dimana sarung anak panahnya? Atau mungkin anak panah muncul secara magis seperti dalam film Mahabharata?”
Sepertinya kesaktian ilmu karakter tersebut yang membuat hal itu mungkin terjadi.
Api menyala seolah membakar bagian bawah karya. Bulan purnama di langit malam digambarkan bulat sempurna sebagai latar belakang objek perempuan. Warna merah mendominasi objek dalam karyanya. Langit biru gelap tampak kontras dengan objek utama seorang wanita setengah kuda.
Salah seorang pengunjung berkomentar, api yang ada di bawah karya ini tampak hidup sehingga layaknya karya ini terbakar dari bawah. Memang jika dilihat karya ini Nampak dinamis. Gabungan gerak objek utama wanita dengan proporsi yang seimbang dan objek lain tampak menyatu sehingga memberikan efek objek seperti bergerak. Namun yang disayangkan, lampu yang menyorot dibalik karya terkadang justru menghilangkan beberapa warna yang ada dalam karya sehingga di beberapa sorot lampu karya tampak datar dan terkesan tidak hidup.

Tema “Zodiak” dipilih Pak Sar bukan tanpa alasan. Menurut beliau, pembahasan mengenai Zodiak atau Rasi Bintang sudah sangat awam dibicarakan masyarakat luas. Sejalan dengan misi yang ingin digaungkan oleh Pak Sar, bahwa beliau ingin batik dikenal oleh masyarakt luas bahkan internasional, tema Zodiak ini dirasa merupakan tema yang sesuai. Batik tak hanya seperti yang dikenal oleh masyarakat awam, batik seperti seragam, jarik, dan motif yang sudah ada turun temurun. Namun, batik bisa dieksplor lebih luas dan dikenalkan secara global.
Unsur tradisi masih terlihat di dalam karya –karyanya. Tetapi objek utama wanita berbaju khas Pewayangan Jawa menurut saya tampak terkesan “ditempel” saja. Maksud saya “ditempel” yaitu objek wayang wanita tersebut seperti hanya menggambarkan karakter pada rasi bintang, tidak secara filosofis merepresentasikan kisah atau makna tertentu. Padahal objek wayang sangat kental dan lekat dengan cerita maupun karakteristik tersendiri. Seperti saat saya melihat karya “Sagitarius”, yang teringat dipikiran saya adalah tokoh pewayangan Srikandi yang memiliki karakter/sifat dan cerita sendiri di pewayangan. Secara garis besar, karya dengan judul “Sagitarius” dalam Pameran “Titirasi” memiliki visual yang memukau dan detail yang rumit disetiap objeknya. Warna yang digunakan juga serasi didukung oleh lampu sorot yang membuat karya batik ini terkesan hidup. Namun yang disayangkan, unsur tradisi pada karya hanya dibiarkan sebagai “pemanis” tanpa adanya filosofi yang dalam. Sedangkan objek wayang tak lepas dari cerita dan pemaknaan yang rinci dan mendalam. Sebetulnya dengan mengusung filosofi pada karakter yang digambarkan akan membuat karya ini terasa lengkap. Sesuai dengan tujuan pembuatan karya, yaitu mengenalkan batik secara global. Tak hanya teknik, visual, melainkan juga filosofi yang terkandung di dalamnya
Malang, 08 Desember 2025
*Penulis saat ini merupakan Mahasiswa semester 7, yang memiliki perhatian dalam bidang Seni Rupa berdomisili di Malang