Nggelari Dandanan Sinatrap Ageman Tengger: Sebuah Catatan Kebudayaan Wastra Suku Tengger
Oleh: Anang Novianto*
Surup.co,- Pernahkan kita membayangkan sebuah arsip dan tradisi yang syarat akan nilai-nilai luhur, kemudian digambarkan kedalam sehelai kain yang menjadi sebuah tawaran terhadap eksistensi kebudayaan?
Hampir satu dekade. Yayak Rahman Hidayat salah satu seniman Suku Tengger menghabiskan waktunya untuk menekuni dan melestarikan warisan wastra Suku Tengger. Sejauh ini ada dua warisan wastra yang ditekuninya. Bentuk manifestasi kebudayaan tangible (benda nyata) sebagai ciri dan identitas masyarakat Suku Tengger adalah kaweng dan udeng.
Kaweng adalah penutup tubuh yang berbetuk persegi, sedangkan udeng adalah ikat kepala yang digunakan oleh kaum laki-laki. Dalam praktiknya kaweng dan udeng selain menjadi ciri khas pelengkap pakaian masyarakat Suku Tengger, juga berfungsi sebagai prosesi ritual Agama maupun Budaya.
Berawal dari keikutsertaanya pada program residensi yang diselenggarakan oleh komunitas seni Jati Swara yang berkerjasama dengan Kemendikbudristek selama 4 bulan. Selama prosesnya Yayak menemukan motif pakem Suku Tengger. Diantaranya adalah motif “mayu tuwuh” (memperindah budi pekerti) yang diperuntukan untuk masyarakat umum dan satu lagi adalah motif “mayu bumi” yang secara khusus diperuntukan untuk Romo Dukun (Penyebutan untuk Pemuka Agama dan Spiritual masyarakat Suku Tengger) yang memiliki makna doa untuk keselamatan bagi alam semesta.

Dari proses residensi tersebut, Yayak memproduksi karya berupa motif udeng sejumlah 60 lembar yang akan dibagikan kepada Romo Dukun yang ada di kawasan Suku Tengger sisi timur yang menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Probolinggo dan sisi barat yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan.
Namun, pada saat akan menyerahkan hasil karyanya, beberapa teman-teman sesama penggiat budaya menyarankannya untuk menyerahkannya dalam bentuk prosesi dan pameran. Setelah melakukan beberapa diskusi dan mendapatkan restu dari beberapa tokoh adat, maka diselenggarakannya prosesi dan pameran selama tiga hari bertempat di Rest Area Tosari pada Tanggal 9-11 Agustus 2024.
Dengan mengambil tema pameran “Nggelari Dandanan Sinatrap Ageman Tengger” atau jika di artikan dapat bermakna; sebuah persembahan yang disematkan dan dipakai untuk Suku Tengger acara kali ini juga akan menampilkan beberapa pertunjukan seni dan lomba menggambar tingkat Sekolah dasar.

“Semoga dengan adanya visualisasi Wastra Jimat Tengger dalam bentuk pameran kali ini, dapat menjadi sebuah catatan kebudayaan khususnya Suku Tengger terutama bagi generasi yang akan datang” ungkap Yayak kepada kontributor surup.co saat dihubungi via telephone; Kamis, 8 Agustus sehari sebelum diselenggarakannya acara pemeran tersebut.
*biasa dipanggil Anang petong adalah petani yang aktif dalam agenda pengembangan budaya lereng Bromo. Mengelola ruang Petong Art House dan perusahaan Brutal Farm. Ide-ide mutahir yang mediatif sering ditawarkannya dengan pendekatan kultural biosains.