BUDAYAGAYARupa

Gandeng Renteng Pasuruan, Alternatif Jawaban Atas Polemik Artjog

Catatan Arik S. Wartono

“Seni itu bukan untuk dipuja, tapi untuk digandeng bersama.”
— Spirit Gandeng Renteng, Pasuruan

Ketika di tempat lain masih debat kusir soal etika, dana, dan pintu kuratorial ARTJOG 2026, di Pasuruan Jawa Timur ada satu perhelatan yang ternyata sudah menjawabnya sejak 2011. Namanya Gandeng Renteng. Ia lahir empat tahun setelah ARTJOG. Ia telah bergerak 14 tahun, tahun 2026 ini memasuki perhelatan ke-15, tanpa harus menjadi tontonan nasional. Tesis Kharisma Nanda Zenmira telah membedahnya sampai edisi ke-11 tahun 2021, karena edisi 12, 13, dan 14 lahir setelah tesis selesai.
Itulah wajah Seni Otonom. Ia tidak menunggu polemik untuk lahir. Ia lahir karena wilayah butuh ruang berkesenian yang merdeka. Dan ia terus berjalan lebih cepat dari kecepatan akademisi mencatatnya.

Gandeng Renteng sebagai Tubuh Seni Otonom
Kata Gandeng Renteng berasal dari idiom Jawa. Gandheng artinya menyatu. Renteng artinya serangkai. Namanya sendiri sudah filosofis. Ia menolak logika bintang tunggal. Ia memilih logika rantai kolektif. Perhelatan ini digerakkan oleh Komunitas Guru Seni dan Seniman Pasuruan atau KGSP, yang dibentuk 14 Desember 2008 oleh Wahyu Nugroho dan 20 orang seniman-guru. Latar belakangnya sederhana: kegelisahan atas kegersangan perhelatan seni rupa di Pasuruan selama hampir 40 tahun, 1970-2008, yang hanya punya sekitar 10 kali pameran bersama.
Dari kegelisahan itu lahir sistem. Gandeng Renteng diselenggarakan setiap setahun sekali. Ia menyatukan seluruh elemen seni di Pasuruan Raya, 4 kecamatan kota dan 24 kecamatan kabupaten. Fokusnya pameran seni rupa, tapi ia juga merangkul teater, musik, tari, sastra.
Sampai edisi 14, ia sudah menjadi indikator perkembangan seni rupa di Pasuruan. Dan ia tidak punya pengikat resmi bagi anggotanya. Yang ada hanya persaudaraan dan kesamaan minat pada seni. Itu struktur paling otonom: tidak dipaksa, tapi bertahan karena niat.

Gerakan yang Melebur dan Menjaga
Gandeng Renteng memilih tidak sibuk mengejar liputan media nasional apalagi internasional tiap tahun. Ia sibuk memastikan komunitas tetap berkarya dan mempresentasikannya kepada publik terutama dalam wujud pameran seni. Buktinya: ia konsisten sampai 2026. Tema-temanya selalu memakai parikan Jawa Timuran untuk merespon isu tertentu. Dari Sor Mejo Nok Ulane edisi 4, Kecipir Mrambat Kawat edisi 5, sampai Pecut Diseblakno edisi 11. Sejak edisi 5, kurasi mulai filosofis dengan riset bersama tentang Pasuruan. Temanya bersambung: dari mempresentasikan wajah seni rupa, mengangkat isue yang tertunda, sampai kedaulatan lingkungan. Gandeng Renteng tidak menjual sensasi. Ia merawat makna yang tumbuh dari tanahnya sendiri.

Jejaring Melawan Sangkar Besi
Max Weber menyebut birokrasi modern sebagai iron cage, sangkar besi yang efisien tapi mencekik etika. ARTJOG hari ini terjebak di situ: efisien mengumpulkan dana, tapi mencekik relasi etis. Sosiolog Manuel Castells menyebut alternatifnya: network society. Kuasa menyebar dalam simpul, bukan menumpuk di puncak. Gandeng Renteng adalah contohnya.
KGSP (Komunitas Guru Seni dan Seniman Pasuruan) sebagai lembaga penyelenggara pameran seni rupa tahunan Gandeng Renteng adalah organisasi nirlaba yang mandiri dan tidak terikat lembaga manapun. Anggotanya kini 100 lebih, dari guru, dosen, seniman, ustadz, mahasiswa, sampai santri. Tidak ada direktur seni tunggal. Yang ada simpul-simpul sanggar: Sanggar Putih, Sanggar Alit, Sanggar Kasurupan, Sanggar Cuci Otak, dll. Karena itu ia tahan. Ia menjadi tempat berkumpulnya seniman untuk berinteraksi dan menciptakan jejaring antar daerah. Ia mendekatkan seni kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelajar, karena sepertiga anggotanya pengajar (guru).

Dari Ritual ke Arsip
Clifford Geertz bilang budaya adalah teks yang bisa dibaca. Masalah besar institusi seni kita adalah ia hanya mau ritual: pembukaan, sambutan, foto, selesai. Prosesnya tidak dibukukan. Ternyata Gandeng Renteng tidak begitu. Ia telah menjadi objek tesis sampai edisi 11. Tesis ini mencatat observasi langsung, wawancara terbuka, dan manajemen event berdasarkan teori Goldblatt. Ia juga menarik perhatian Galeri Nasional Indonesia. Tahun 2013 dan 2019 Galeri Nasional berkolaborasi menggelar Pameran Drawing di Pasuruan karena kontinuitas drawing di Gandeng Renteng.
Pasuruan dikenal dengan kekuatan seni gambarnya berkat event ini. Tiga edisi terakhir yang belum masuk tesis justru menagih: siapa yang akan mengarsipkan? Karena pameran harus melahirkan buku. Buku akan bertahan lebih lama daripada panggung dan galeri. Gandeng Renteng 15 tahun adalah bukti bahwa budaya pustaka bisa lahir dari daerah.

Melanjutkan, Bukan Mengulang
Banyak pihak hari ini telah memotong sejarah sekadar deret peristiwa. Padahal sejarah seni rupa Indonesia juga deret perlawanan. Ada Sanggar Bumi Tarung 1950-an. Ada Gerakan Seni Rupa Baru 1975. Ada ruang independen 1998. Gandeng Renteng berusaha menjadi kelanjutan garis itu, dengan watak Jawa Timur: gotong royong, merenteng, tidak ribut tapi konsisten. Ia lahir 2011, 4 tahun setelah ARTJOG ramai. ARTJOG lebih dulu, tapi sepertinya lupa belajar dari yang lahir belakangan di timur. Gandeng Renteng edisi 10 mengangkat Kedaulatan Lingkungan. Edisi 11 memberlakukan sistem penjuru sebagai bentuk berserah kepada Yang Kuasa, bergerak ke segala penjuru Pasuruan untuk menggambar Pasuruan. Itu sejarah yang bergerak, bukan mengulang.

Arsip yang Menagih Diteruskan
Sampai hari ini, tesis tentang Gandeng Renteng baru sampai edisi 11. Ini undangan bagi mahasiswa ISI, Unesa, atau komunitas Pasuruan untuk melanjutkan. Edisi 12, 13, dan 14 menunggu ditulis. Karena Seni Otonom tidak selesai di pameran. Ia selesai ketika seorang seniman muda Pasuruan tahun 2040 bisa buka buku dan berkata: “Dulu ayah-ibu dan kakak kami sudah memilih menggandeng, bukan menggenggam kuasa.” Inilah jawaban alternatif atas polemik ARTJOG. Bukan rangkaian slide pembenaran. Tapi 15 tahun kerja, dan arsip yang terus bertambah.

Gresik, 1 Juli 2026
Arik S. Wartono
Pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik


Daftar Pustaka

Castells, Manuel. The Rise of the Network Society. 2nd ed. Oxford: Blackwell Publishers, 2000.
Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.
Weber, Max. Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich. Berkeley: University of California Press, 1978.
Wartono, Arik S.. Esai-Esai Polemik ARTJOG 2026. Seri Esai 1–16. Gresik: Sanggar DAUN, 2026.
Zenmira, Kharisma Nanda. Naskah Publikasi Tesis: Gandeng Renteng, Perhelatan Seni Rupa Komunitas di Pasuruan Edisi 1-11. 2021. Data primer: KGSP berdiri 14 Desember 2008, Gandeng Renteng sejak 2011, sampai edisi 11 tahun 2021.

Arik S. Wartono
+ posts

Pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik

Arik S. Wartono

Pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *