KolektiFUN: Aksi Lintas Seni Tanpa Protokoler dan SPJ
Oleh : Yudha Prihantanto
Kolektif resah geliat kebersamaan
Pada 14–15 Februari 2026 menjadi tanda penting bagi pelaku seni Kota Pasuruan. Bukan karena Valentine. Tapi ditengah riuhnya pesta pora perayaan hari jadi Kota Pasuruan, pelaku seninya lebih memilih jalannya sendiri yaitu berkarya bersama tanpa protokoler dan SPJ kedinasan. Pergerakan kreatif tersebut bernama “kolektiFUN Pasuruan 2026”. Penggabungan dua kata antara ‘kolektif’ dan ‘fun’ yang digabung berarti ‘kelompok senang’. Merupakan gerakan yang berangkat dari kekecewaan dan kekesalan para pelaku seni muda khususnya, terhadap pemerintah yang selama ini dianggap kurang peduli dalam mengapresiasi potensi para pelaku seninya. Terbukti dari banyaknya rangkaian hari jadi kota Pasuruan, tidak ada agenda pun yang diperuntukkan bagi pelaku seni khususnya. Meski senimannya sangat melimpah. Hanya rangkaian seremonial mentah yang jauh dari esensi kelokalan. Kegiatan yang bisa dilakukan sehari-hari tanpa menunggu hari jadi sebagai momentum penting identitas daerah. Kekesalan lain ketika pemerintah melibatkan pelaku atau kelompok seni untuk menjalankan programnya, yang ada hanya intervensi berat sebelah. Justru bergeser dari apresiasi dan esensi pemberdayaan. Alih-alih peduli tapi menghakimi, seakan penolong tapi penodong. Dari fenomena tersebutlah terbentuknya “kolektiFUN Pasuruan 2026”. Jenis perhelatan yang pertama kali di kota Wakanda ini. “Sudah pahamkah sejauh ini? Ku yang lama disini…dikota ini, tak pernah ada begini,,,”, Seraya menyanyikan lagu Idgitaf dengan nada metal.

Kesunyian yang berdentum
Berawal dari adanya FGD (Forum Gawat Darurat) pada peringatan hari Pahlawan, dimana para muda-mudi berkumpul dalam forum peduli kreasi kota sendiri. Berdiskusi, bercurah gagasan dan menghasilan tujuan bersama yaitu membuat perayaan berbagai elemen seni dalam satu waktu bersama secara mandiri. Tanpa sengaja Saya dan Ade (media metallagi yang juga vocalis grup musik metal Berantai) bertemu di warung kopi untuk merealisasikan keinginan bersama tiga bulan lalu yang terhempas hujan. Susah memang, menyatukan beragam latar belakang pribadi dan kelompok dangan segala dinamikanya masing-masing. Menembus hujan badai, menerjang ruang dan waktu, berpacu padu segala upaya dalam prosesnya.
“Apakah SDM disini yang bermasalah? Ada apa dengan pelaku seninya? Kalau sepi hingar bingar berkoar, diajak jalan masih berantakan?” Kewajaranku berkeluh.
“Wes talah mas ayo wis, Pasuruan butuh wong koyok sampean” Ungkap Ade dengan nada metalnya saat kehujanan.
“Koyok balesan stiker wa ae ente iki” Jawabku.
Dari situlah kita bergegas merapikan segala yang dibutuhkan menuju markas Umar. Si owner Seputar Pasuruan. Berbincang panjang ditengah hujan. Dikedainya, Kanca Co n Space diputuskan menjadi titik temu berbagai disiplin seni dalam perhelatan bertajuk “kolektiFUN Pasuruan 2026.
Pergerakan seni hari ini tidak lagi berdiri dalam sekat-sekat eksklusif. Ia bergerak cair sunyi tapi memukau. Bagai hujan yang menyisakan bias. Bagai mantan yang menyisahkan kenangan. Menyeberangi batas antara visual, bunyi, tubuh, dan kata. KolektiFUN Pasuruan 2026 menjadi kesepakatan nyata bagaimana seni rupa bertemu dengan musik, teater berkelindan dengan puisi, dan perform art menyatu dengan lapak kreatif dalam satu perayaan bersama. Bukan sekadar festival, melainkan ruang dialog yang menumbuhkan kolaborasi. Inilah kesunyian yang menjadi dentuman. Lohkan !

Asal bukan Tuan, mari kita ngefun
Giat ini sepenuhnya berangkat hanya bermodal semangat berdampingan. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, kita berdonasi secara suka rela. Tidak ada tuntutan, tidak ada ketentuan, tidak ada yang paling di-Tuan-kan. Semua menjadi Tuan ditanahnya sendiri untuk bebas berekspresi. Anjaaayy… Walhasil, semua bisa dilalui dan terpenuhi melebihi prediksi. Tiap pengunjung, dikenakan tiket Dua Puluh ribu untuk dua hari dengan mendapatkan snack sekali. Apresiasi yang murah dengan sajian penuh karya. Panggung sederhana dengan backdrop kain hitam miliknya Teater Manunggal. Lighting parled dari Raifa Lighting n Visual menambah estetika suasana. Sound system dari Intan Production Event n Wedding Organizer yang makin renyah menggelora. Alat musik drum dari Formasi bikin format funnya semakin menjadi. Semuanya terfasilitasi bahkan kotak nasi untuk semua tallent pengisi. Beberapa sponsor seperti SR Property, Rokok Gajah Baru, mineral Cleo, Street War dan SHS meubel menambah asupan nutrisi. Ya gak sih!
Belum sampai disini, menu kolektiFUN apa aja sih?
Artdias sipaling aneka produk unik dari kayu yang sering keliling Nasional. 2,5 dimensi mengolah lukis diberbagai media menjadi seperti patch emblem dan lainnya idaman para skena. Jinontro miniature dengan aset ragam rumit bangunan yang tak lebih tinggi dari 3cm dan Panjang 5cm tergarap detail. Para pelaku UMKM kreatif, perupa, ilustrator, hingga pembuat merchandise independen mempresentasikan karya sebagai wujud ekonomi kreatif berbasis komunitas. Lapak tersebut menjadi wajah penghantar taburan kreasi di Kota ini. Sebagai ruang interaksi—tempat ide, gagasan, dan jejaring. Seni hadir membumi, dekat dengan publik, dan memiliki daya hidup secara ekonomi. Lololoohh!
Rangkaian pernak pernik tematik tangan Ferry menjelma kostum beridentitas Mirza Artistic yang spektakuler dalam peragaan fashion shownya. Desain baju karnaval memperlihatkan bagaimana seni visual berpadu dengan mode dan pertunjukan. Kostum-kostum dengan eksplorasi bentuk, tekstur, dan simbol lokal menjadi medium ekspresi identitas. Desain tidak lagi sekadar estetika, tetapi pernyataan kultural yang bergerak di ruang publik, menyampaikan narasi tentang Pasuruan dan dinamika generasi mudanya. Hengkan!
Formasi (Forum Masyarakat Musisi) yang mensupport kegiatan ini mengawali dentumannya sebagai tanda hadir hidupnya suasana. Dari komposisi akustik hingga eksplorasi bunyi alternatif, pertunjukan musik menciptakan ruang resonansi emosional. Ia menjadi jembatan penyambung ragam penonton dari latar belakang berbeda. Dalam konteks pergerakan lintas bidang, musik tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi dialog antara jokes gimmic sapaan MC, dengan pembacaan puisi, teaterikal puisi, hingga perform art. Lak wis’a!
Puisi yang dibawakan oleh Ucok menyuarakan tentang tragisnya dunia pendidikan saat ini. Rahang baja dengan perform atraktif musikal puisinya, menyampaikan tentang masa depan adalah milik anak-anak. Sastra menjadi bentuk eksperimentasi yang menarik. Puisi yang biasanya hadir dalam sunyi halaman buku, kini hidup melalui gestur tubuh, tata cahaya, dan ekspresi panggung. Kata-kata menjelma peristiwa. Pembacaan puisi mempertegas kekuatan narasi personal—tentang keresahan sosial, identitas daerah, politik, cinta, agama dan realitas keseharian. Di atas panggung, suara individu menjadi gema kolektif. Ndak lidok’a!
Teater dan perform art memperluas dimensi pengalaman. Tubuh menjadi medium utama, ruang menjadi setumpuk wacana, dan waktu menjadi bagian dari komposisi sejarah. Dalam perform art, batas antara penampil dan penonton menjadi tipis; interaksi spontan menghadirkan makna yang terus berubah. Seni tidak lagi hanya untuk ditonton, tetapi untuk dialami. Layaknya Teater Simpang yang dipawangi oleh Taring Pena mengatur pertunjukan yang berjudul “Raja Tikus”. Menyajikan fakta tikus yang terorganisir membasmi lahan padi, ternyata kiriman mafia impor beras. Disusul pemikian monolog oleh Ipoel Dagama mengajak audiens berfikir tentang ketimpangan sistem pemerintah, tentang wajib bayar pajak, fenomena kampanye dan seperangkat birokrasi yang dianggap hanya memperalat keberlangsungan kelompok arus bawah. Harakon!
Grup musik Pop-Punk Betershon beraksi membawakan lagunya sendiri menghangatkan arena kolektiFUN. Dua malam kolektiFUN dipuncaki oleh Madamme Whimpsy, artis lokal yang membawakan isu teror plastik dalam lagunya, diolah DJ Mohet dengan sentuhan reggae kontemporer turut meledakkan suasana. Tak asing jika Madamme dalam setiap konsernya selalu support all out bersama pasukannya. Setelah hujan lebat berhenti satu persatu gerombolan tim dan fansnya mulai berkolektiFUN. Salutnya, mereka tetap membeli tiket dengan tertib tanpa ada satupun yang nylonong. Dari sinilah ketertiban, kesepahaman, kesatuan energi, keharmonisan seutuhnya dari sebuah kelompok seni terjalin.

Media swadaya sebagai promotor
Kepedulian dan perhatian terhadap sesuatu paling dasar terukur dari bagaimana kita merawat sesuatu tersebut dengan adanya wadah nyata yang menaungi. Dalam hal ini, sekelas Pemerintah pun, terdeteksi belum mampu mengakomodir, mengarsip apalagi membentuk ekosistem seni yang akurat. Seperti tidak adanya media sebagai ruang publish untuk mengarsipkan khusus kegiatan seni dan budaya sebagai aset daerah. Sementara, media hari ini adalah sebagai pijakan primer untuk berkomunikasi kepada masyarakat luas. Dari ruang sempit dengan keterbatasan, media swadaya berkolektif mencoba memberi angin segar. Dipromotori oleh tiga orang dari masing-masing kelompok media yaitu : Yudha(Surup.co), Ade (Metallagi), dan Umar (Seputar Pasuruan) saling berkolabosi menumbuh kembangkan pergerakan seni lintas bidang, yang merayakan keberagaman ekspresi sekaligus memperkuat jejaring kreatif lokal. Nahloh!
Inisiatif tiga media lokal dalam menyelenggarakan kolektiFUN Pasuruan 2026 menunjukkan peran penting media komunitas sebagai penggerak ekosistem seni. Mereka tidak hanya menjadi peliput peristiwa, tetapi juga fasilitator ruang, kurator gagasan, dan penghubung antar pelaku kreatif. Kolaborasi ini membuktikan bahwa pergerakan seni tumbuh kuat ketika berbasis solidaritas dan kerja kolektif. Pada akhirnya, kolektiFUN Pasuruan 2026 bukan sekadar agenda dua hari. Ia adalah representasi semangat zaman—bahwa seni hidup dalam perjumpaan lintas bidang, lintas komunitas, dan lintas generasi. Di tengah arus digital dan perubahan sosial, peristiwa ini menegaskan bahwa kreativitas lokal memiliki daya tahan dan daya cipta yang tak terbatas. Dari Pasuruan, gerak kolektif itu menyala, menginspirasi, dan membuka kemungkinan baru bagi masa depan seni yang inklusif dan kolaboratif
* Penulis adalah kurator, praktisi seni, akademisi asli Pasuruan