Menanam Kembali “Jawa” di Dada Pemuda: Perjumpaan TANDUR Hidupkan Ruang Belajar Budaya
Oleh: Wahyu Setiadi (Taring Pena)
Surup.co, PASURUAN – Komunitas TANDUR memperkenalkan diri kepada publik melalui forum budaya bertajuk “Ngangsu Kawruh” yang digelar pada Minggu (8/2). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi generasi muda untuk memahami kembali nilai-nilai budaya Jawa sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kesadaran sosial.
Mengusung filosofi “Cancut tali wondo, barang wes kebacut sek iso ditoto,” komunitas TANDUR mengajak peserta memaknai kondisi sosial hari ini sebagai momentum refleksi. Filosofi tersebut menegaskan bahwa meskipun berbagai persoalan moral dan identitas telah terjadi, upaya perbaikan tetap memungkinkan melalui kesadaran kolektif dan pembelajaran bersama.

Diskusi Filosofis tentang Makna “Jawa”
Dalam sesi pemaparan utama, dalang Ki Suryo mengulas konsep “Jawa” sebagai proses kesadaran yang berkembang secara bertahap. Ia menjelaskan tahapan pemahaman mulai dari Ruh, Weruh, Kaweruh, hingga Ngaweruhi, yang menurutnya menggambarkan perjalanan manusia dalam memahami nilai dan kebijaksanaan hidup.
Menurut Ki Suryo, pemahaman budaya yang mendalam dapat menjadi penyeimbang di tengah arus perubahan sosial yang berlangsung cepat. Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengenal budaya sebagai simbol, tetapi sebagai praktik hidup sehari-hari.
Sorotan terhadap Tantangan Generasi Muda
Budayawan Pasuruan, Cak Ros, menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda dalam menjaga etika sosial. Ia menilai bahwa krisis identitas menjadi salah satu penyebab melemahnya tata krama dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ketika akar budaya mulai dilupakan, maka orientasi moral juga ikut goyah,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya pemahaman unggah-ungguh sebagai fondasi interaksi sosial yang sehat.
Pandangan tersebut sejalan dengan Mas Ilham, penggiat pelestarian budaya Jawa, yang menyebut budaya sebagai unsur penting yang membentuk cara pandang dan perilaku manusia. Ia mengajak peserta untuk menjadikan budaya sebagai pedoman dalam bertindak, bukan sekadar pengetahuan teoritis.

Partisipasi Aktif Komunitas dan Pemuda
Forum yang dipandu Edo (Erdogan), founder Komunitas Ruang Publik, berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari para peserta. Diskusi berjalan dinamis melalui sesi tanya jawab yang menunjukkan ketertarikan generasi muda terhadap isu kebudayaan dan identitas lokal.
Edo menjelaskan bahwa TANDUR dirancang sebagai ruang belajar yang inklusif, tempat para pemuda dapat berdialog tanpa sekat dan membangun pemahaman bersama mengenai nilai-nilai luhur budaya.
Kegiatan ini juga mempertemukan berbagai komunitas seni dan literasi di Pasuruan, membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan program kebudayaan di masa depan.
Rencana Program Berkelanjutan
Melalui kegiatan perdananya, komunitas TANDUR menyampaikan rencana untuk menggelar forum Ngangsu Kawruh secara berkala dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat jejaring komunitas serta memperluas ruang dialog budaya di tingkat lokal. Peserta kegiatan menyambut positif inisiatif ini dan berharap forum serupa terus berlanjut sebagai wadah refleksi sekaligus penguatan identitas budaya di kalangan generasi muda Pasuruan
*Penulis adalah seorang Guru sekaligus sastrawan muda pegiat seni teater, asli Pasuruan