CANGKRUKGAYAISURASAN-RASANSOSIAL

Yang Tua Bercinta, Yang Muda Bersumpah dalam Forum Gawat Darurat

surup.co , Tiba-tiba hujan, tiba-tiba pertemuan, tiba-tiba gagasan. Temu obrol perkopian yang tak disengaja dalam ketetapan Tuhan, Pemuda bercerita tiba-tiba bersumpah. Keesokan harinya meluncurlah poster tentang pertemuan berbagai lintas disiplin aktivitas seni dan kepemudaan dalam momentum “Sumpah Pemuda” dalam FGD (Forum Gawat Darurat). Bertempat di Kanca co & space (Jl. Patimura: Depan Perumnas Bugul Permai Kota Pasuruan) pada 28 Oktober 2025

“Yang tua bercinta, yang muda bersumpah” adalah tema yg diangkat sebagai ungap gagas dan refleksi pergerakan para pemuda yang harapannya bisa menjalin cinta sampai tua disegala sektor kota Pasuruan. 19:30 (ba’da Isya’) ditengah gerimis tak diundang, tidak disangka pertemuan sederhana penuh kesyahduan dan kehangatan energi semakin berdatangan saling melengkapi. Mereka bercerita tentang hari ini. Tentu di buka jaming dan orasi pemikiran, perform art sebagai bahasa ungkap.

Dibuka oleh moderator yaitu Ipoel (seniman dan founder Yayasan Dapur Langgam Berseri) dengan memantik pertanyaan “Apa kabar pemuda pemudi Pasuruan? Bagaimana dan apa yang dirasakan di Kota selama ini?”

Kondisi FGD (dok. kabar pas)

Tori (Officer Craft: Jangkep) masih percaya adanya kesempatan untuk mengetuk pintu birokrasi pemerintah daerah untuk berkolaborasi dengan potensi kreativitas anak muda. Mengacu banyaknya kegiatan yang telah dilakukan kelompoknya saling berkontribusi menumbuhkan perekonomian dan potensi kreativitas.

Billy yang akrab Gembos (aktivis seni jalanan: vokalis ASU, pegiat sketer) penuh haru tak terasa menetes air mata saat bercerita perjalanannya mulai dari nol dengan grup musik ASU sampai berkoneksi dengan artis Nasional bahkan Internasional. Proyek film seri “Begidakan” dengan almarhum vokalis Paroots untuk mengangkat lokalitas Pasuruan. Pendampingan skater anak-anak menuju jenjang event Nasional. Semua itu kini sia-sia tanpa respon dari pemerintah daerah. Seakan musnah hanya membekas menjadi cerita. Bahkan dirinya merasa seakan kehilangan eksistensinya. Merasa tidak pernah melakukan apa-apa.

Fuad (sosiolog) juga mengungkapkan kelayakan apa yang perlu dikejar di kota ini? Berbanding luruskah apa yang telah diperjuangkan teman-teman dengan porsi yang diberikan oleh pemerintah daerah? Ia merasa, begitu bobroknya sistem birokrasi yang tidak menyentuh sesuai porsinya. Ia pun menyadari apakah ini hanya pandangan subjektif dirinya sendiri.

Hanum (vokalis Paroots) yang kini memilih jalur ninja solo karier dengan identitas barunya: Madame Whimpsy, sebagai pegiat yang menyuarakan untuk me-reduce, reuse, recyle limbah plastik. Juga mengungkapkan ke-mbleneg-an-nya untuk memikirkan geliat bersama meramaikan Kota. Setelah banyak dinamika dan terror menimpa dirinya bersama Paroots. Kecewa berat karena timbal balik pemerintah daerah dengan setelah yang dilakukan untuk kota. Ia hanya merasa cukup hanya dengan satu ransel berisi perkakas nyanyi dengan unit motornya. Tapi adanya sisa energi dalam lingkaran kecil yang justru diisi usia diatasnya, menjadikan gairah jiwanya kembali mencoba untuk tidak apatis.

Wahyu (Calon sosiolog dan pegiat teater) memberikan konsep pemikiran kritisnya tentang kebodohan dan kebohongan struktural Negara sampai Pemerintah Daerah yang berkaitan dengan Kesenian. Ia Juga menawarkan bagaimana seniman mencari saluran mobilitas sosial secara vertikal lewat kesenian.

Eko (Pegiat wahana baca dan taman puisi) bersama gerombolannya sangat antusias terlibat dalam forum yang menggugah idealisme kolektif melalui ungkapan puisi yang dibacakannya. Disisi lain kelompoknya terbiasa berkontribusi terhadap masyarakat mengenalkan literasi dengan jalur nglapak buku untuk dibaca bebas siapa saja dijalanan Kota.

Yudha (kurator, akademisi dan pegiat seni) juga menceritakan perjalanan berkesenian di teater mulai saat pelajar hingga kini di seni rupa. Juga membandingkan tiap kelompok seni di daerah lain telah begitu jauh melambung dengan kecanggihan jalur kolektifnya. “Rumput tetangga memang lebih hijau, sampai tak ada rumput segar untuk dimakan kambing dihalaman rumah sendiri” ungkapnya dengan melanjutkan pertanyaan: “Apakah memang sumber daya manusia pengelola sistem pemerintahan Kota ini tak mampu mendaya gunakan pelaku kreatif, atau memang tipikal manusia kreatifnya yang tak bisa berkoneksi dengan sistem pemerintah daerah? Memang seniman harus kaya untuk bisa berkembang”.

Asep (Musisi senior dan pemilik studio munimusike) menceritakan kontribusi bermusiknya selama ini melalui jalur mandiri diantaranya pendampingan kelompok-kelompok pelajar dalam penggarapan soundtrack lagu jinggle untuk kebutuhan komunitas, lomba. Ia juga membenarkan jika adanya kelompok musik yang tidak tersentuh oleh pemerintahan. Hanya kelompok musik yang memiliki kedekatan personal dengan kedinasan yang terus dipakai dalam event-event Kota meski secara kelayakan patut dipertanyakan.

Gatot japet (Musisi dan seniman Lukis senior) juga membenarkan yang disampaikan dari berbagai kelompok tersebut. Hingga Ia lebih memilih berjalan mandiri melalui sanggar potelot konte yang eksis dalam pembinaan potensi bakat anak dalam bidang seni rupa hingga pergelaran pameran tiap tahun secara swadaya.

Cak Ros (Budayawan) menegaskan bahwa kesenian di kota Pasuruan merupakan sebaran barokah yang ditancapkan waliyullah Mbah Hamid sebagai filter kebaruan yang semakin gak karuan. “Namun kita juga harus mendobrak bahkan melawan kebijakan pemerintah yang dianggap jauh dari esensi pergerakan para pejuang seni yang telah berkontribusi banyak hal untuk Kota ini” pungkasnya.

Umar (Founder seputar pasuruan dan influencer muda) membongkar respon netizen terhadap akun seputar pasuruan terkait perkembangan seni budaya khususnya di Kota Pasuruan. “Gak ada info seni ta min?, Pasuruan kok ngena ngene tok min?, Hari jadi kok cuma gitu aja min?, Info Pasuruan gak gawe event koyok kota sebelah ta min” . Sebagai influencer, Ia juga menceritakan banyak sekali perbandingan dengan kota lain, bukan dalam rangka menjatuhkan tapi sangat menyayangkan dengan potensi yang dimiliki namun tidak ada perubahan signifikan untuk membranding kota ini. Selain hanya wisata religi (ziarah makam wali) yang memang kodratnya sudah patutnya sebagai ikon kota. Bahkan Ia sempat tidak mengekspose kegiatan pemerintah sama sekali dalam rentan waktu yang lama. Karena dianggap monoton dan tidak memiliki daya tarik.

Ade (vokalis Berantai dan pegiat musik metal) menyampaikan kesulitan untuk mengorbitkan genre musik metal di lingkungan Pasuruan. Namun bersama grup metalnya, Ia mencari cara untuk tetap eksis dengan membuat platform digital sebagai wadah literasi yaitu “metallagi media”. Sampai oleh banyak komunitas banyak yang mengira itu platform dari kota lain. Memang sengaja untuk tidak mencantumkan nama kota.

Disela obrolan, tak terduga ada Perempuan menyimak dari awal hingga pulang paling akhir yang ternyata domisili di Kabupaten Pasuruan. Sebut saja Dea juga berasal dari Ambon yang sudah lama di Pacitan dan Malang. Dea mengapresiasi semangat pegiat seni khususnya di Kota dengan adanya forum tersebut hingga berharap ada giat wayang di kalangan pemuda.

Moderator menutup forum dengan mendeklarasikan kesepakatan bersama yaitu adanya tindak lanjut FGD tersebut dengan menyelenggarakan giat kolektif seluruh sektor seni dan industri kreatif secara swadaya.

Perform art eksperimen interaktif oleh Yudha dan Samsul

Forum ditutup dengan perfom eksperimen interaksi oleh Yudha dengan melakukan akrobatik menggambar dalam posisi terlentang dilantai, dengan kedua kaki mempertahankan kursi yang diangkat. Disusul oleh Samsul yang merespon dengan membentuk goresan tubuh yang terlentang dilantai. Lalu audiens diajak untuk merangkum doa-doa pada kertas yang nanti ditempel sebagai tanda sumpah. Sebagai refleksi keadaan terkini dimana seorang seniman, guru tidak memiliki kedudutan (tempat) nyaman, meski dituntut untuk terus berkarya bagaimanapun keadaannya sebagai eksistensi kebermanfaatan dirinya. Disambung lagu penutup dari Madame Whimpsy dengan kampanye sosialnya penyelamatan alam dari teror plastik.

Rangkuman doa dalam FGD

Website | + posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *