BUDAYAKARYARUPASOSIALSPIRITUAL

Pramulang: Meramu Wujud Perupaan Dwarapala

Pramulang adalah gagasan pameran bersama 5 perupa Ahmad Saihu, Cahyo Kiria, Gatot SP, Ghatra Zaid, dan Tamban Arif Maulana. Mereka mengkontruksi artefak bersejarah Dwarapala.

Tajuk pameran Pramulang mengajak pembaca mengulang-ulang memahami. Ada yang membacanya dengan Pamulang (sebuah daerah di Tangerang), adapula yang menerka Pra-Mulang. Semuanya sah-sah saja, namun pada pameran ini konteks kata Pramulang adalah frasa atau gabungan dua kata dari Peramu dan Ulang, ini adalah portmanteau atau lakuran dua kata yang digabung menjadi satu dengan menghilangkan beberapa huruf. Kata peramu dan ulang menjadi Pramulang. Ini adalah upaya perupa meramu ulang perupaan/visual dari Arca Dwarapala sebagai sumber inspirasi.

Mengapa Arca Dwarapala?

Jawabannya merujuk pada sejarah kejayaan Kerajaan Singosari yang berkuasa pada abad ke-13. Arca Dwarapala adalah patung penjaga gerbang yang biasanya ditempatkan di pintu tempat suci, masuk candi atau kompleks istana. Beberapa sumber menyebutkan Dwarapala area Candi Singosari adalah salah satu yang terbesar se Asia Tenggara dengan tinggi 3 meter. Kami beranggapan jika ada Arca Dwarapala sebesar ini, bisa jadi adalah simbol kemegahan dan luasnya wilayah yang di jaganya.

Ada 20 karya yang terpajang sebagai bagian peramu ulang Arca Dwarapala dengan sudut pandang yang unik:

Ahmad Saihu,  menghadirkan karya berjudul “The Second Presence” lukisan akrilik di atas kanvas berukuran besar (180 x 130 cm) yang menampilkan figur arca Dwarapala dalam penggambaran realistik dengan nuansa monokrom gelap. Lukisan ini mengangkat kembali simbol penjaga gerbang suci dari masa klasik sebagai refleksi eksistensial manusia modern tentang keberadaan, keheningan, dan makna kehadiran kedua (the second presence) dalam ruang batin.

Dia menginterpretasikan Dwarapala bukan sekadar penjaga candi, tetapi simbol kesadaran diri pada lapisan kedua dari kehadiran manusia yang tersembunyi di balik wujud lahiriah. “The Second Presence” dapat dibaca sebagai upaya mengenali diri lewat keheningan dan refleksi, suatu proses menghadirkan “jiwa penjaga” dalam diri manusia di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Dua pengunjung berfoto di antara karya Ahmad Saihu (kanan-kiri) dan Ghatra Zaid (tengah)

Karya ini juga menunjukkan kematangan teknis dan kedewasaan artistik Saihu, yang telah lama aktif berpameran di berbagai ruang seni nasional. Latar belakangnya di komunitas Sanggar Selosoan dan partisipasi dalam berbagai pameran seperti UOB Painting of the Year 2023 menunjukkan konsistensinya dalam eksplorasi figur, tekstur, dan narasi simbolik. Melalui “The Second Presence,” Saihu menghadirkan meditasi visual yang hening namun kuat tentang keberadaan manusia yang senantiasa dijaga, dipertanyakan, dan dihadirkan kembali melalui seni.

Cahyo Kiria Nugroho, Karya “Aesthetic Urban” menampilkan eksplorasi visual budaya urban melalui pendekatan ilustrasi digital bergaya anime. Dengan teknik digital printing, Cahyo memvisualisasikan dua karakter muda ala Dwarapala era digital, satu duduk dalam pose santai, satu lagi berdiri di samping motor futuristik. Latar tulisan besar bertuliskan KIRIA yang dibuat menyerupai grafiti bernuansa api dan neon.

Kombinasi warna kontras seperti merah-oranye dan biru-hijau, serta garis tegas dan bersih, menciptakan kesan dinamis, energik, dan penuh semangat khas budaya muda urban.

Karya Cahyo Kiria Nugroho berjudul “Aesthetic Urban”, Dwarapala versi anime

Sebagai seniman muda kelahiran 2005 yang baru menapaki perjalanan kreatif, latar belakang Cahyo yang berawal dari ketertarikan pada anime dan latihan menggambar realis dengan teknik grid terlihat berpengaruh kuat dalam kontrol anatomi, proporsi, serta penguasaan ekspresi karakter.

Pengalamannya mengikuti program internship desain karakter 2D dan ilustrasi digital juga tampak pada ketepatan komposisi, pewarnaan, dan estetika komik Jepang yang adaptif.

Secara konseptual, “Aesthetic Urban” merefleksikan identitas generasi muda yang hidup di persimpangan budaya global, antara street culture, anime, dan digital lifestyle.

Cahyo menghadirkan dunia visual yang banyak disukai Generasi Z, mereka memiliki tingkat konsumsi tertinggi saat ini, gaya, cerminan semangat kebebasan, individualitas, dan ekspresi diri di tengah realitas kekinian.

Gatot SP, karya “Manifestasi Danyang 3” karya Gatot Suprianto menampilkan kekuatan spiritual dan kecintaan mendalam terhadap alam, yang juga mencerminkan perjalanan artistiknya sebagai pelukis otodidak yang menekuni seni sejak 1993. Lukisan berukuran 120 x 100 cm meramu lanskap hutan yang rimbun dengan cahaya lembut menyinari sosok Arca Dwarapala di kejauhan, sementara kawanan domba merumput damai di bawah pohon besar yang menjulang dan berbunga.

Danyang biasanya digambarkan sebagai pohon, gunung, mata air, atau desa yang melindungi suatu tempat atau wilayah dalam kepercayaan Jawa. Seperti roh leluhur yang menjaga atmosfer. Kesan bahwa alam bukan latar, tetapi ruang spiritual tempat manusia dan kekuatan gaib bersemayam dalam keseimbangan.

Karya Gatot SP berjudul “Manifestasi Danyang #3” Akrilik pada Kanvas, 120 x 100 cm, 2025

Pengalaman Gatot sebagai pemahat dan pelukis yang lama berkarya di Bali tampak dalam penguasaan tekstur dan bentuk natural: pepohonan, batu, serta permainan cahaya yang realistis namun sarat rasa magis.

Ia mengolah warna-warna hijau, biru, dan emas untuk menciptakan harmoni visual yang memancarkan aura kesucian dan kehidupan. Secara konseptual, karya ini memvisualkan gagasan danyang sebagai penjaga alam, perwujudan energi spiritual yang menghidupi dan melindungi lingkungan.

Lukisan ini menjadi refleksi atas keyakinan seniman bahwa alam adalah wujud nyata dari kekuatan ilahi yang harus dirawat dan dihormati.

Karya Ghatra Zaid berjudul “Obrolan Intens” drawing pada kanvas, 150 x 70 cm, 2025

Ghatra Zaid, meramu “Obrolan Intens” merupakan eksplorasi visual yang kuat tentang sosok penjaga Dwarapala yang ditransformasikan melalui pendekatan drawing monokrom di atas kanvas berbentuk tameng.

Bentuk tameng segi enam bukan sekadar bingkai, bisa jadi simbol perlindungan dan pertahanan diri; ia memperkuat makna karya sebagai ruang dialog antara kekuatan, spiritualitas, dan ketahanan batin. Dalam karya ini, Ghatra menampilkan figur arca dengan detail luar biasa, guratan tinta yang rapat, kontras cahaya yang tegas, dan permainan tekstur yang menyerupai pahatan batu.

Teknik goresan linier dan cross-hatching menunjukkan latar belakangnya sebagai seniman dengan dasar keterampilan manual kuat dari dunia airbrush dan desain grafis, yang ia tekuni sejak 1990-an. Pendekatan teknis ini menghasilkan visual yang presisi, tetapi tetap menyisakan aura spiritual dan monumental dari arca penjaga.

 “Obrolan Intens” dapat dibaca sebagai percakapan batin antara manusia dan simbol pelindungnya. Sebuah refleksi atas dialog internal tentang kekuatan, ketakutan, dan keteguhan diri. Arca Dwarapala sebagai entitas hidup yang berkomunikasi secara simbolik dengan pencipta maupun penontonnya.

Mempertemukan dunia craftsmanship dan spiritual awareness; perpaduan antara ketelitian teknis dan kedalaman makna. Ia menghadirkan Dwarapala sebagai penjaga kesadaran, tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri dalam “obrolan” yang sunyi, intens, dan jujur.

Tamban Arif Maulana, Karya berjudul “Eskavasi Makna” meramu visual yang kompleks dan reflektif. Memadukan ikon-ikon budaya klasik dengan simbol-simbol populer masa kini di dalam wadah mesin capit (claw machine).

Secara visual, karya ini menampilkan arca-arca bergaya Dwarapala dan Ganesha Hindu-Buddha seperti berdampingan dengan mainan, boneka beruang, karakter kartun, hingga mainan plastik berwarna ceria.

Karya Tamban Arif Maulana berjudul “Eskavasi Makna”, akrilik pada kanvas, 95 x 75 cm, 2025

Semua elemen itu dikemas dalam ruang transparan mesin permainan, yang umumnya diasosiasikan dengan hiburan dan konsumsi instan.

Tamban mengeksplorasi ketegangan antara nilai spiritual dan budaya pop, antara yang sakral dan yang profan. Mesin capit menjadi metafora dunia modern yang “memilih dan mengambil” makna budaya masa lalu secara serampangan menjadikannya objek hiburan, bukan lagi ruang perenungan. Judul “Eskavasi Makna” menggambarkan upaya menggali ulang nilai-nilai tradisi yang tertimbun oleh arus komersialisasi dan modernitas.

Dari segi teknik, Tamban menunjukkan keterampilan realistis dengan pewarnaan lembut dan pencahayaan neon yang menciptakan nuansa futuristik. Warna dingin dan kilau logam memperkuat kesan keterasingan benda-benda suci di tengah suasana artifisial.

Melalui karya ini, Tamban seolah mengajak penonton bertanya:

“Apakah makna dan nilai warisan budaya masih bisa kita gali secara utuh, ataukah sudah menjadi sekadar barang pameran dalam mesin hiburan modern?”

Penulis: Zuhkhriyan Zakaria

Pameran berlangsung:
26 Oktober – 2 November 2025

📍 Cahya Pilar Merah, Jl. Empu Gandring No.105, RT.07/RW.09, Tejosari, Candirenggo, Kec. Singosari, Kabupaten Malang

Open gate : 09.00 – 20.00 WIB

Zuhkhriyan Zakaria
+ posts

2 komentar pada “Pramulang: Meramu Wujud Perupaan Dwarapala

  • Ulasan yang sangat bagus dan mencerdaskan ,secara tidak langsung.membangun pola pikir baru dan pemahaman terhadap karya adiluhung arca dwarapala itu sendiri.
    Minimal Seperi inilah sebuah karya ,dapat memberikan edukasi yg bermanfaat.

    Balas
  • Karyanya menurutku matang .. tidak asal2an… bagus..
    Salam sukses untuk temen2 yg pameran. Smoga oameran lancar dan membawa hasil positip

    Dan salam jaya untuk teman terkonsisten saya ” jek”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *