Lustrum I dan Disnatalies Uniwara sajikan Pentas Kolaborasi Epik Seluruh Civitas
Dalam rangka Lustrum I Uniwara menyajikan pentas perdana Ketoprak Millenial yang berjudul “Tumenggung Wiranegara: Kridhaning Pujangga Anggatra Bangsa”. Sebuah kolaborasi epik yang digarap dari seluruh civitas perguruan tinggi mulai Rektor, pejabat struktural, Dosen, Mahasiswa sampai Alumni. Pagelaran pada tanggal 26 Februari 2025 di gedung serbaguna tersebut juga sebagai refleksi semangat Disnatalies Uniwara ke 5

Malam dimana para akademisi bersua melalui karya. Lima ratus penonton mampu bertahan dan menikmati pentas yang dimulai pada 19:30 hingga 22:00 secara khidmat. Naskah kolosal sekaligus disutradarai Saiful Ulum, S.Pd, (Alumni teater Manunggal angkatan 2006) tersebut diperankan oleh empat puluh orang dengan melibatkan seluruh civitas Uniwara dari berbagai posisi diantaranya:
(1) Dr. Daryono, M.Pd ; Rektor sebagai Amangkurat II,
(2) Dr. Yudi Hari Rayanto, M. Pd ; Dekan Fakultas Pendidikan dan Psikologi sebagai Kapten Ruys,
(3) Dr. M. Bayu Firmansyah, M.Pd ; Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan sebagai Kapten Kuffler,
(4) Miftakhul Munir, M. Pd : Dekan Fakultas Agama Islam sebagai Pangeran Purbaya,
(5) Dr. Mardiningsih, M. Pd ; Pengawas PPLPP sebagai Raden Ayu Gusik Kusuma,
(6) Defirra Alizunna, M.Pd ; Kepala Program Studi PGMI sebagai Istri Nerangkusuma,
(7) M. Ma’ruf, M.Pd : Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam sebagai Gubernur Batavia,
(8) Jakaria Umro, M.Pd : Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam sebagai Kapten Francouis Tack,
(9) NurHasan, M. Pd : Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam sebagai Pangeran Suropati,
(10) Ir. Kusno HADIDJIJA, M.T ; Dosen Program Studi Teknik Industri sebagai Sultan Cirebon,
(11) Drs. Sunardi, M.Pd selaku dosen senior Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia berperan sebagai dalang pertunjukan,
(12) Muhammad Sulthon, S.Pd Alias Teppek (alumni teater Manunggal tahun 2009) sebagai Untung Surapati,
(13) Muhammad Hamzah, S.Pd Alias Kacong (alumni teater Manunggal tahun 2007) sebagai Patih Nerangkusuma
(14) Sepuluh mahasiswa dari UKM teater Manunggal sebagai Prajurit jawa dan Pasukan VOC,
(15) Sepuluh orang dari UKM musik Soul Voice sebagai tim musik,
(16) Sepuluh orang dari UKM tari Suropati sebagai penari

Pertunjukan ketoprak kontemporer yang digarap selama dua bulan tersebut mengisahkan tentang perjuangan Untung Suropati dari seorang perampok yang kemudian direkrut menjadi perwira VOC. Tidak kuat dengan cacian dan hinaan selama menjadi perwira, Untung Suropati menjadi pembelot dan memberontak terhadap VOC. Ia kemudian menjadi buronan yang paling dicari, hingga VOC mengirim Kapten Francoise Tack untuk menangkap Untung Suropati hidup atau mati. Kematian Kapten Francoise Tack di Kartasura membuat VOC naik pitam, dan untuk menyelamatkan Untung Suropati dan Kesultanan Mataram dari amarah VOC, Raja Amangkurat II mengutus Untung Suropati dan Keluarga Patih Nerangkusuma pergi menuju Pasuruan sekaligus mengangkat Untung Suropati menjadi Adipati dengan gelar Tumenggung Wiranegara.

Saat semua tampil diatas panggung dalam sebuah pertunjukan, lalu siapakah yang dibelakang panggung? “Memposisikan diri dibelakang layar merupakan sikap kesadaran artistik yang sangat fatal jika terabaikan dalam sebuah pertunjukan” begitulah ungkapan Yudha Prihantanto, S.Pd, M.Pd yang dipercaya sebagai Produser untuk meracik segala elemen yang dibutuhkan dalam pagelaran tersebut. Tentu juga melibatkan beberapa timnya meliputi: Agus Merdeko, S.Pd sebagai Stage Manager, Ruwansah Dhani (Alumni Teater Manunggal angkatan 2006), sebagai penata cahaya dan Muhammad Wahyudi alias Jemblung (Alumni teater Manunggal angkatan 2008) sebagai LO (Liaison Officer).

Turut hadir juga untuk membuka acara yaitu Kanjeng Pangeran Eri Ratmanto Dwijonagoro, Koordinator Komunitas Pancasila Dasar NKRI-BP/Sentana Dalem Karaton Surakarta Hadiningrat Trah PB 2 dan PB 3 serta generasi ke-7 Pangeran Sambernyawa/Mangkunegara pertama di Kadipaten Pura Mangkunegaran,Solo, yang tampak sangat menikmati pertunjukan.

“Sungguh, pertunjukan yang sangat menginspirasi dan melestarikan budaya Nusantara, bisa dinikmati dan direnungkan. Saya menyaksikannya dari awal sampai acara selesai. Peristiwa yang dibangun didunia kampus tersebut menggugah banyak pihak. Semoga Pemerintah pusat dan Daerah memberikan perhatian kepada dunia Budaya, khususnya di Pasuruan,Jawa Timur. Salah satu pengamalan Pancasila adalah melestarikan budaya Nusantara. Cerita Ketoprak Millenial yang digelar tersebut memperlihatkan hubungan yang erat dan kuat antara Karaton Kartosura dan Wilayah Pasuruan didalam perjuangan melawan V.O.C. Oleh karena itu era modern sekarang ini seharusnya hubungan antara Karaton Surakarta (Solo) dengan Pasuruan,Jawa Timur harus dibangun kembali. Saya sebagai Sentana Dalem Karaton Surakarta Hadiningrat, selama kurang lebih 5 tahun mengamati Rektor Uniwara dalam bidang Budaya dan perhatiannya kepada perkembangan Budaya Jawa dilingkungan Kampus maupun diluar kampus, perlu diapresiasi. Sangat mungkin untuk diusulkan mendapatkan kekancingan dari Keraton Surakarta yang sesuai dengan dedikasinya, dengan tugas untuk menjaga dan mengembangkan budaya dan warisan leluhur Jawa. Semoga bisa Pentas di luar kampus Uniwara Pasuruan,Jatim. Selamat Memperingati Lustrum Pertama Kampus Uniwara,Pasuruan,Jawa Timur”.
Begitulah ungkapan Pangeran Eri dari Sentana Dalem Surakarta, seraya menutup pewarta surup media ini.

Inilah bukti kongkret bahwa para ilmuwan, cendekia, akademisi pun tidak hanya sekadar memberikan pengajaran di ruang akademis, namun juga turut berkontribusi melestarikan kesenian melalui karya yang nyata. Semoga yang demikian mampu menginspirasi dan terjalin terus untuk kehidupan. Mari kita hidupkan gaya dan budaya agar hidup makin berseni-seri.
Ulasannya sangat bagus, enak dibaca dan memotivasi para pembaca. Maju terus SURUP…