Sebuah Identitas: Melimpahnya Makna Pada Rimba Visual Batik Tengger
Oleh : Yudha Prihantanto*
Berangkat dari kegelisahan seorang seniman asli Tengger tentang kekhawatiran runtuhnya budaya lokal yang mulai terkikis oleh pesatnya peradaban zaman.
Berangkat pula saya menjelang surup (bukan media surup ini, tapi lebih ke waktu menjelang mahrib) menuju ketinggian yang dikatakan oleh dewa 19 diantara lirik lagunya berbunyi ‘puncak abadi para dewa’.
Memerlukan 1 jam 20 menit melewati jalan menanjak dan berliku sejauh kurang lebih 1.700 meter dari permukaan laut untuk menemui seniman berdedikasi luhur terhadap kelokalan daerahnya. Kabut dan hempasan dingin menembus mantel menjadi sensasi karya seni satu ini semakin wuuiiiih.
Pijakan berkarya
Kepedulian terhadap nilai nilai tradisi leluhurnya menjadi pijakan dasar dalam ide penciptaan karyanya. Memang Tosari begitu memesona akan melimpahnya segala sumber. Lebih indah dari potensi keindahan alamnya, menyimpan segala rahasia energi, pengetahuan, dan nilai-nilai. Melebur menjadi kepribadian, dalam berperilaku sosial, spiritual, hingga tradisinya. Dari banyaknya potensi tersebut, Yaiak (32 th) memilih satu titik untuk dieksplorasi menjadi suatu karya seni terapan: yang memiliki nilai fungsi. Dimana sesuatu yang dapat difungsikan atau memiliki nilai pakai yang melekat setiap hari bagi masyarakat jawa disebut ageman. Banyak arti tentang ageman diantaranya disebut sebagai gawanan yaitu senjata yang dibawa setiap hari. Makna literalnya ageman adalah agama karena melekat seperti pakaian yang digunakan setiap hari. Ageman juga sebagai pakaian yang digunakan para bangsawan. Ageman adalah suatu prinsip. Dalam hal ini Yaiak mengolah nilai leluhur dari sumber alam sekitarnya menjadi karya yaitu batik udeng dan batik kaweng.
Udeng dan Kaweng
Udeng adalah selembar kain sebagai ikat kepala yang digunakan oleh laki-laki. Udeng memiliki berbagai filosofi diantaranya sebagai simbol sejarah, keberagaman, kebersamaan, sebagai alat pemersatu untuk menghargai perbedaan. Seperti filosofinya, warga Tengger memang dikenal ramah, guyub dan sederhana dengan ketulusan pribadinya yang sudah membudaya. Bahkan segala perbedaan latar belakang, status sosial dan agama tidak lagi menjadi soal. Semua lebur sebagai harmonisasi peradaban. Sedangkan kaweng merupakan sarung yang digunakan sebagai penutup badan bagi laki-laki dan wanita dalam aktivitas sehari-hari bagi warga Tengger. Layaknya baju zirah bagi kesatria Kerajaan. Kaweng selain sebagai pelindung dingin, juga sebagai petanda identitas. Bagi Perempuan yang mengikatkan kawengnya dengan simpul dipundak kanan berarti telah dewasa dan siap menikah. Sedangkan simpul dipundak kiri, berarti tanda bahwa perempuan tersebut tidak memiliki suami. Simpul pada dada adalah tanda bagi perempuan Tengger sudah bersuami. Jika simpul kaweng digunakan dileher belakang adalah petanda bahwa perempuan tersebut telah hamil. Begitulah sekedar kaweng pun telah memiliki berbagai makna penting bagi masyarakat Tengger.

Kembali pada Yaiyak yang merespon udeng dan kaweng sebagai ageman masyarakat Tengger telah mengolah dengan keahliannya sebagai seniman drawing. Mulai SMA Ia gemar menggambar ilustrasi ke berbagai media kertas dan kanvas. Bentuk-bentuk yang diilustrasikan adalah objek tidak jauh dari dirinya. Seputar tetumbuhan yang ditemui didaerahnya seperti bunga edelweiss, berbagai jenis akar dan dedaunan. Juga kegiatan-kegiatan ritual warga Tengger, sampai pernak pernik yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Semua itu disajikan dalam ramuan visual yang apik sarat nilai estetik. 2019 mulailah Ia menyederhanakan bentuk asli (stilasi) dandanan (hiasan) menjadi unsur visual yang dekoratif namun tetap mengandung khas Tengger.


Pengembaraannya dalam rimba visual tersebut menjadi energi untuk memproduksi batik motif khas Tengger pada udeng dan kaweng sebagai ageman. Sudah lebih dari sepuluh judul batik yang telah dibuatnya hingga kini. Dari puluhan motif yang telah dibuat, terdapat motif andalan yaitu:
- Motif Matanra: stilasi Bromo,
- Motif Mayu Bumi: stilasi prosesi upacara adat lima tahunan. Diperlukan perlakuan khusus dalam membuat motif mayu bumi ini dengan ritual oleh dukun adat yaitu miwiti (mengawali), nuroken (menidurkan), dan nangeken (membangunkan) hingga menggelar (dipamerkan)
- Motif Mayu Tuwuh: prosesi ritual setiap saat bila di rasa perlu.

Baginya, pencapaian karyanya selama ini telah cukup mewakili sebagai identitas adat Tengger. Hingga diapresiasi dengan diakui para tokoh adat melalui bukti serat berisi beberapa judul yang ditandatangani ketua Paruman dukun Tengger.
Nggelari Dandanan Sinatrap Ageman Tengger
Perayaan syukur telah digelar melalui pameran seni rupa yang bertujuan untuk memperkenalkan lebih dalam dan banyak hal tentang busana batik sebagai warisan budaya Masyarakat Tengger. Selama tiga hari yaitu mulai jum’at, tanggal 09 Agustus sampai 11 agustus 2024 lalu bertempat di rest area Tosari dengan melibatkan seluruh perangkat desa dan warga sekitar. Perhelatan yang diprakarsai oleh kelompok ‘Catur Aksa’ berkolaborasi dengan komunitas pegiat lingkungan: ‘Bala Daun’ tersebut, menyajikan perpaduan antara konsep sosial-budaya dan ritual-spiritual tradisi dikemas melalui seni masa kini. Bermacam kegiatan yang digelar dalam pameran batik tersebut diantaranya pengukuhan batik oleh Dukun adat, workshop batik, sarasehan budaya, lomba menggambar tingkat SD, sampai hiburan jamming akustik dan kelompok band lokal. Sebagaimana yang telah diulas oleh Anang Novianto pada surup.co. Pendokumentasian tentang inipun dapat diakses pada akun @Catur_aksa


Seni dan ekonomi
Disektor ekonomipun, karyanya juga telah berkontribusi pada warga yang menjual udeng dan kaweng karyanya. Yaiak pun bersyukur karyanya telah menuai apresiasi banyak pihak. Diantara wujud apresiasi tersebut adalah pemerintah kabupaten Pasuruan mewajibkan ASN setiap hari rabu untuk memakai batik khas Kabupaten Pasuruan. Maka khususnya bagi masyarakat kecamatan Tosari merasa terwakili bahwa batik khas Tosarian menjadi prioritas pilihan. Hingga aspek industripun, pendistribusiannya telah menyebar mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sampai instansi pemerintah kabupaten Pasuruan. Adapun harga yang beredar untuk karya batik yang diperjual belikan mulai kisaran Rp.150.000 sampai Rp.800.000. Inilah yang dikatakan bahwa karya seni sebagai intangible asset: adalah asset yang tidak berwujud. Dimana didalam intangible asset bukan hanya keuntungan finansial, melainkan terdapat semangat, inspirasi, nostalgia, kreativitas, spiritual dan emosi.

Hingga ulasan ini diunggah, masih banyak rahasia tentang seni diketinggian yang luas dan kedalam Tosari yang belum tuntas oleh dinginnya yang membekas. Demikianlah saya katakana bahwa “diantara keluhuran seniman adalah bukan hanya mengolah artefak kebendaan, namun mengapresiasi nilai tradisi dengan melestarikan sampai membekas dimasyarakat”.

*Adalah kurator, praktisi dan dosen seni visual yang senang berkumpul dengan seniman dan teman-temannya seniman. Bisa berteman dari Ig @yudha.visualart