BENGKELKARYASOSIAL

Kekalahan Pada Bulan Kemerdekaan

Oleh: Cak Alfan*

Surup.co,- Zainun; kelas 2 SD, kami berdua biasa memanggilnya Inun. Ia bersiap untuk maju. Uminya mempersiapkan penampilannya dengan sangat baik. Berjubah dan bertudung sorban. Persiapannya kita lakukan beberapa hari sebelum pertandingan. Aku gemetar melihatnya memegang naskah pidato. Belum, ini belum mulai tapi kepalaku sudah mulai pusing. Ia, sama dengan anak-anak pada umumnya, atau lebih cocok lagi sama dengan diriku yang dulu. Tidak menyukai pertandingan. Aku, tidak suka berkompetisi, sebab selalu kalah. Ujian catur wulanku ketika seusia Zainun selalu meningkat. Mulai ranking 4, 5, 6, 7 dan pada puncaknya aku mendapatkan peringkat 23 dari 25 siswa. Bahkan hal-hal yang sifatnya undian berhadiah, aku tidak pernah mendapatkannya. Amazing bukan?

Aku tahu, dari 12 peserta akan ada pemenang. Pusingku bertambah dan aku mulai menenangkan diri dengan menjauh darinya. Aku mencoba mempersiapkan kalimat-kalimat mantra jika dia nanti kalah. Aku berharap dia tetap percaya diri, dan tidak berhenti mencoba. Seperti dua hari sebelumnya. Aku senang sekali dia memainkan bola dengan sepupunya. Aku mengobservasi keceriannya dengan dalam, dan berharap tidak terjadi apa-apa, yang membuat dirinya meninggalkan permainan. Karena aku tahu, dia tidak suka aktivitas fisik. Sama seperti aku. Sepuluh menit berselang, “bird” nya terkena bola, dan aku menahan napas dalam-dalam, seolah menahan nafas di dalam air. Mataku berkedip cepat, padahal tak ada debu yang masuk. Hatiku berkata, ayo kuat-kuat-kamu pasti kuat. Yes, aku lega, karena dia justru tertawa terbahak bahak, namun dua menit berselang ia meninggalkan permainan dan kembali mengambil handphone “Ohhh My God” ketakutanku terjadi.

“Kalau kalah gak papa bi” ujarnya sambil membawa teks

“gak papa lah, yang penting mas inun sudah mencoba dan berusaha” jawabku

Istriku adalah sosok yang paling “gemes” dengan Inun. Memang, dua karakter yang berbeda akan membuat orang tidak seirama. Seringkali, orang tua di berbagai tempat mengeluhkan perilaku anaknya, seolah bermasalah. Bukan, itu bukan masalah, hanya karakter yang berbeda. Bayangkan saja, orang tua yang memiliki sifat koleris (sat-set-wat-wet), namun dikaruniai anak yang melankolis-plegmatis (tenang, cinta kedamaian, menjauhi konflik) sungguh perjuangan yang luar biasa. Sebab itu, menjadi orang tua harus terus belajar. Belajar menerima kondisi anaknya, dengan terus mengoptimalkan kelebihan dan meminimalisir kekurangan.

Jujur, aku tidak suka berkompetisi. Namun kita perlu belajar berkompetisi dan mengikuti banyak pertandingan, hingga merasakan kemenangan atau justru kekalahan. Kemangan akan membuat orang merasa hebat, mampu, dan bisa mengandalkan diri. Lebih dari itu, adanya pertandingan membuat seseorang menempa, melakukan persiapan, terus berlatih diri serta membangun ketekunan juga kekerasan hati untuk mendapatkan kemenangan. Sebab, seluruh pertandingan memiliki tujuan yang sama, yaitu kemenangan.

Gelaran olimpiade mengajarkan moto Citius, Altius, Fortius, yang artinya, lebih tinggi, lebih cepat, lebih kuat. Mereka berpacu untuk menjadi yang terbaik di berbagai bidang olahrahraga. Pada tahun 2024 ini negara Amerika menjadi yang terbaik, dengan mendapatkan 126 medali. Indonesia masuk pada peringkat 39, apapun yang terjadi negeriku tetaplah yang terbaik. Seperti Zainun dalam hatiku.

Nak, teruslah bertanding karena kau akan mendapatkan pengalaman menyenangkan ketika menang. Adanya pertandingan selalu diikuti aturan, jika kau menang, maka kau mampu meraih tujuan sesuai dengan aturan. Sebab banyak orang menang, tapi tak melakukan aturannya dengan benar. Ini adalah pelajaran kehidupan. Nak, jika kau kalah itu pun tak mengapa. Belajarlah lebih tekun, lebih keras dan bangun kebiasaan-kebiasaan yang akan membuatmu lebih baik dari kemarin. Sebab impian tak perlu tinggi, raihlah setapak demi setapak. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok, lebih baik dari hari ini. Pastinya, kekalahanmu di bulan kemerdekaan bukan akhir segalanya. Selalu ada kesempatan untuk orang yang mau dan bersedia belajar.

*Seorang yang katanya pemerhati sosial dan peduli pada pendidikan anak-anak. Juga owner penerbit buku Basya media. Akun Ig: @alfanarifuddin dan penerbitnya bisa dicek @penerbit_basya_media_utama

Cak Alfan
Pemerhati sosial dan peduli pada pendidikan anak-anak. | + posts

Katanya pemerhati sosial dan peduli pada pendidikan anak-anak. Juga owner penerbit buku Basya Media Utama

Cak Alfan

Katanya pemerhati sosial dan peduli pada pendidikan anak-anak. Juga owner penerbit buku Basya Media Utama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *