Tales Beyond Border: Interaksi Kritis Seniman Perempuan Indonesia dan Mesir
Oleh : Helmi Zuhdi
Kisah Tanpa Sekat!, Demikian sekiranya frasa yang cocok ketika melihat perjalanan beberapa mahasiswa seni rupa dari Bandung dengan mendatangi Negeri Piramida, tepatnya di Kota Kairo, termasuk kota paling tua di dunia. Perjalanan ini mengusung niat untuk melakukan pameran kolaborasi antara dua kampus seni rupa Indonesia dan Mesir yang dilakukan pada tanggal 8 Januari 2024 lalu. Memang tak bisa dielak, ketika wacana yang dikaitkan dengan motif atau proyek yang menggabungkan dua instansi atau oranisasi, biasa disebut pameran “kolaborasi”. Namun kekaryaan seperti apa yang akan dipresentasikan oleh para seniman dalam pameran kolaborasi ini?. Sekilas tentang pameran ini, Pameran kolaborasi ini melibatkan dua kampus yaitu Universitas Helwan dan Institut Teknologi Bandung. Pameran ini diadakan di Ahmed Basyoni Gallery di Kairo, Mesir. Seniman yang terlibat, sebagian berasal dari mahasiswa magister Seni Rupa dari Fakultas Seni Rupa, ITB dan Civitas dari Fakultas Edukasi Seni, Universitas Helwan. Masing-masing dari mereka adalah seniman perempuan yang berasal dari Indonesia sejumlah tiga orang, Seniman Mesir sebanyak tiga orang dan satu orang dari Kuwait yang berdomisili di Mesir.

Melampaui Batasan!
Seni rupa di Indonesia telah berkembang menjadi gerakan yang signifikan, dengan dampak luas pada aspek sosial, budaya, dan pendidikan. Perkembangan ini tidak terlepas dari pengaruh era kolonial yang membawa ide-ide baru, termasuk dalam pendidikan seni rupa. Interaksi antara kolonialisme dan pendidikan seni rupa melahirkan berbagai inovasi dalam bentuk seniman, karya, gerakan, dan pemikiran baru. Contoh nyatanya adalah pendirian “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” pada tahun 1947 oleh Simon Admiraal, yang kini dikenal sebagai FSRD ITB. Lembaga ini menjadi wadah pertemuan antara teori modern Barat dan ajaran lokal yang kemudian membuat FSRD ITB dikenal sebagai Laboratorium Barat.
Dalam seni rupa, komunikasi dilakukan melalui bahasa visual – bentuk, gerakan, ruang, dan ritme yang diolah menjadi simbol bermakna. Seniman dengan cermat membangun elemen visual ini, menciptakan representasi yang bisa dikenali atau abstraksi murni. Mengacu pada teori Ferdinand de Saussure, setiap tanda visual memiliki hubungan antara penanda (bentuk visual) dan petanda (konsep atau makna). Pemaknaan simbol dalam karya seni sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan historis. Meski demikian, seniman tetap memegang peran utama dalam menciptakan kode-kode simbol, yang dipengaruhi oleh latar belakang, metode pembelajaran, dan pengalaman pribadi mereka.
Mengenai pameran ini, Hazim M. Z. H, Hilmy Fadiansyah, dan Ica Mangadil sebagai kurator menjelaskan “Berbicara tentang visual, karya seni yang hadir dalam pameran ini memunculkan citarasa yang lebih dinamis. Hal ini terlihat dari beragamnya media yang digunakan dan konsep yang ditawarkan”. Salah satu kecenderungan konsep penciptaan karya seni yang hadir, menggunakan ide-ide keseharian dan menjadikan karya seni yang ada menginspirasi apresiator untuk berpikir secara logis dan kritis dalam mamaknainya terkait dengan kehidupan dan lingkungan sekitar.

“Tales Beyond Border” menjadi benang merah yang diadopsi, dengan menghadirkan tujuh seniman yang terlibat, Nayera Subaih, Shofia Ajiba, Veronika Dheta, Yeni Fatmawati, Ahrar Thamer Alshammeri, Hagar Ragab Mohamed dan Rehab Haroun. Pameran ini menunjukkan penyisipan simbol dalam setiap karya, yang tentunya telah dielaborasi dengan teori dan konsep yang mereka bangun. Kemudian, ditransformasikan menjadi metafora yang filosofis dengan sendirinya. Ada juga kesamaan menarik lainnya dalam setiap konsep mereka, yaitu kecenderungan mereka untuk menggali jiwa sejati untuk mencapai kedamaian batin. Dengan demikian, karya yang mereka ciptakan ketika menjadi karya seni sebagai komunikasi batin dari jiwa seniman yang berakar pada pengalaman dramatis kehidupan sehari-hari menjadi pengalaman estetis yang dapat disampaikan.
Berdasarkan penjelasan para kurator, “Pameran ini menghadirkan serangkaian titik dan belokan yang mencerminkan perkembangan dan perjalanan tujuh seniman melalui reinterpretasi, simbol, dan karya dalam pameran “Tales Beyond Borders”, selain itu pameran ini berusaha untuk menenggelamkan kita dalam cerita di balik narasi, visual, dan pemikiran konseptual”. “Tales Beyond Border” secara khusus menyoroti peran dan karya seniman yang secara signifikan mengarah pada pembaruan dari pengalaman dan pengetahuan yang telah dicapai. Kita belajar dari pameran ini untuk memandu karya di era globalisasi ini sebagai jembatan untuk merekam sejarah dalam bidang seni rupa kontemporer.

Seniman-seniman yang hadir dalam pameran ini memulai dari titik yang beragam. Melalui bentuk ruang instalasi, Shofia Ajiba menggunakan kain kasa, Bagian-bagian tertentu dijahit menggunakan teknik bordir dengan benang berwarna merah. Karya instalasi ini terinspirasi dari ruang ganti di toko pakaian yang tidak lagi berbentuk kotak melainkan berubah menjadi ruang non-geometris. Karya ini dimaknai sebagai ‘ruang transformasi’ di mana manusia yang sebelumnya memiliki luka dalam dirinya dalam proses penerimaan, manusia melalui proses transisi dengan segala kesadarannya untuk menjadi lebih baik. Proses inilah yang disebut sebagai transformasi dari keadaan penuh luka menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam proses penciptaan, seniman berupaya untuk dinamis dan berkelanjutan, melibatkan eksplorasi, eksperimen, dan pengembangan ide dari konsep awal hingga hasil akhir.

Pada bentuk lain, Nayera Subaih mempersembahkan instalasi keramik berjudul “Safe Space”. Dalam karyanya, Nayera menciptakan dua buah keramik berbentuk vertikal yang diwarnai secara dinamis dalam hitam dan putih dan dikelilingi oleh benang berwarna emas dengan manik-manik di antaranya. Karya ini terinspirasi dari filosofi Kintsugi tentang merakit kembali keramik yang pecah dengan emas dan makna filosofis wabi-sabi tentang keindahan ketidaksempurnaan. Dua potongan keramik yang dipajang pada jarak tertentu menjadi makna dualisme kehidupan yang bertolak belakang. Menggabungkan keduanya dengan untaian benang emas berisi manik-manik membentuk tasbih sebagai aspek spiritualitas, yang dimaknai sebagai hubungan antara manusia dan Tuhan sebagai rangkaian doa yang mengalir dan harapan akan refleksi hubungan batin di antara keduanya.

Kemudian Rehab Haroun, menampilkan karya yang berjudul “Exsistence”. Karya ini menjelaskan tentang bagaiamana manusia memiliki identitas vital sejak kelahiran, Hal ini memanifestasikan konsep kewarganegaraan, etnis, dan bahkan sidik jari mereka. Dan kemudian ada identitas formal yang diperoleh, yang pada dasarnya adalah matriks digital dari nol dan satu. Dalam kerangka ini, manusia dibebani dengan berbagai identitas yang dibutuhkan oleh kehidupan, dan keberadaan mereka yang sebenarnya larut di balik semua pertimbangan ini.

Veronika Dheta mempersembahkan tiga lukisan yang meliputi pemandangan alam, objek hewan, manusia, dan berbagai motif batik yang dibuat menggunakan cat minyak di atas kanvas. Empati adalah kata kunci dalam karyanya, yang menceritakan tentang keterkaitan semua entitas di bumi dan bagaimana keterkaitan ini mempengaruhi kelangsungan hidup, yang dapat dirasakan secara fisik dan mental. Dalam karyanya ingin menekankan bahwa tubuh fisik bukan satu-satunya hal yang penting untuk dipahami. Sedangkan pada masalah batin, seniman menyoroti masalah jiwa dengan memberi makna filosofis pada energi Tuhan sebagai salah satu kekuatan yang membuat manusia terus tumbuh dan berkembang. Sebagai umat Tuhan, kita mengenal kekuasaan-Nya dengan memberi cahaya pada jiwa setiap umat-Nya, dan ada hubungan di antara mereka, yang kemudian dimaknai sebagai makna spiritualitas.

Sekilas tentang karya Hagar Ragab, Hagar menampilkan bebek dengan jumlah cukup banyak yang sedang mengapung diatas sebuah wadah transparan. Hagar mencoba menghadirkan simbol bebek dari berbagai perspektif, bebek karet kuning mudah didapatkan dan diketahui banyak orang. Salah satu tabloid Inggris melaporkan bahwa Ratu Elizabeth II memiliki bebek karet di tempat mandinya dan bebek itu menggunakan mahkota. Kemudian balapan bebek karet, dikenal juga sebagai balapan derby bebek, sebagai cara untuk menggalang dana bagi organisasi di seluruh dunia. Kemudian bebek karet terbesar di dunia diciptakan oleh seniman belanda Florentijn Hofmann pada tahun 2007.

Yeni Fatmawati mempersembahkan dua seri lukisan, yang keduanya dibuat menggunakan cat akrilik di atas kanvas dengan teknik akuarel. Karya pertama berjudul “Amor Fati”. Seniman mengabstraksi realitas dan ketidakpastian sebuah pertemuan, perpisahan, kehilangan, cinta atau kekecewaan. Emosi yang bergejolak menjadi sesuatu yang harus diurai dan dilepaskan. Dalam karyanya, memaknai hal ini sebagai refleksi konsep keikhlasan dalam menerima realitas kehidupan; bersabar dengan pencipta karya seni dianggap ideal untuk mengalihkan rasa penderitaan menjadi motivasi atau bentuk respon positif. Seniman memaknai keikhlasan dan berdamai dengan keadaan dengan merasa bersyukur atas semua peristiwa yang telah dilaluinya. Ia menggunakan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai pelajaran hidup dan kesempatan untuk menjadikannya pribadi yang lebih baik di masa depan

Mengenai pameran kolaborasi ini “Tales Beyond Borders” menjadi suatu pameran yang mampu mencatat dan merekam perkembangan seni rupa termutakhir yang sedang berkembang di kedua negara antara Mesir dan Indonesia, ketika dekolonialisasi menjadi bahan yang selalu dicanangkan bagi negara yang pernah dijajah, ini menjadi dasar perkembangan pada akar yang serupa. Representasi kedamaian jiwa melalui pemaknaan simbol-simbol keseharian yang dialami oleh para seniman perempuan ini secara tidak sadar mampu tercerminkan pada karya-karya yang hadir. Melampaui batas atas jarak, menjadi satu konsep yang diresapkan oleh ketujuh seniman perempuan dengan berbagi pengalaman melalui karya-karya dalam pameran ini. Terlepas dari jarak antar kedua negara yang terbilang jauh, perasaan yang selaras dapat tercerminkan dan dirasakan bersama.
*Helmi Zuhdi (@zuhdihel), biasa disebut Zuhdihel atau Hel, lahir di Jakarta, 18 Januari 1999. Menamatkan tingkat Sarjana Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Malang pada tahun 2021, dan saat ini sedang menjalani Studi Magister Seni Rupa di FSRD ITB. Memiliki ketertarikan pada grafiti dan street art yang ada di Indonesia, kemudian dituangkan pada beberapa media seperti; “Titik Nol: Melacak Jejak dari Kubangan Kota” City (E)scape – HighVolta Magazine 3.0; “Identifikasi Aspek Positif Mural Pada Film Dokumenter “Jogja Berhati Mural” dalam Jurnal JADECS. Sejarah seni menjadi fokus keilmuan yang ditekuni, begitu pula di studi magister mengambil lingkup Sejarah dan Teori Seni Rupa. Ketertarikan ini menjadi bekal untuk bagaimana melihat perkembangan grafiti yang ada di Indonesia.