GAYANAMPANGRUPA

Refleksi Seni: Aneh vs Normal di ALPA 9 SEDESA UM

Oleh: Isa Al-fath Mutaqin*

Malam sabtu yang indah di Tlogomas Malang, Himpunan Mahasiswa Departement Seni dan Desain (HMD Sedesa) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menggelar Abnormal Project Annual 9 (ALPA 9). Acara yang rutin dilaksanakan setiap tahun sekaligus menjadi acara pembuka bagi rangkaian program HMD Sedesa ini dilaksanakan di Apartemen Begawan pada Jumat-Minggu (08-10/06).

Alpa 9 kali ini mempromosikan tema “Aneh tapi Nyata, tapi Aneh” yang menggambarkan lingkungan SEDESA itu sendiri. Di latar belakangi oleh cara berpakaian, pikiran, pergaulan, dan berkehidupan. Teks kuratorial yang ditulis menggunakan kapur pada papan tulis menyebutkan “Pameran ini berpusat pada sebuah pertanyaan tentang apa yang mendorong para perupa, individu maupun kelompok untuk menyuarakan pemikiran yang tampak tak masuk akal?, mempertanyakan sesuatu kejanggalan, menghadirkan impresi yang bersifat profokatif, lelucon/humor, ejekan, horor, dan kontradiktif”. Sesuai dengan tujuan dari adanya acara ini untuk mengukur kesemrawutan seni rupa dengan mendapatkan jawaban definitif tentang “peristilahan seni”. Karya yang dipamerkan pada kegiatan ini berjumlah 41 karya yang terdiri dari 32 karya 2D, 9 karya 3D, dan merupakan hasil karya dari mahasiswa Sedesa UM.

Naskah Kuratorial Helmi Zuhdi (dok. Jek Surup)

Ditemui untuk wawancara, Oddi Rakha, ketua pelaksana Alpa 9 ini menceritakan alasan alpa tahun ini mengangkat tema tersebut “Alasannya adalah untuk mengkritisi suatu entitas yang bisa disebut “aneh” dengan yang “normal” untuk dipamerkan dalam bentuk lukisan atau instalasian. Tapi ini tidak terbatas bagi para seniman untuk menghadirkan refleksi kritis dalam ide dan gagasannya, sesuai dengan “aneh” nya masing-masing” ujarnya.

Suasana ruang pameran Alpa 9 (dok. Alpa 9)

Ada tiga karya dari perupa yang ingin saya ceritakan. Dong, membuat karya instalasian orang tertidur. Karya berjudul “Tidur tanpa akhir” ini dibuat dari galon dan botol plastik bekas dan dibalut dengan pakaian; sosok tertidur lelap, menunjukkan kelelahan dan keengganan untuk bangun, sementara pencahayaan menambah kesan tidur yang tenang.

Partai Bulan Bintang, adalah sebuah kolaborasi dari Laputa dan Sinyo. Mereka mengutarakan perasaan terhadap keadaan bumi saat ini. Dimana perang terjadi dimana-mana, kelaparan, kematian, dan banyak hal lainnya yang membuat mereka pada akhirnya meluncurkan zine berjudul “f*ck this planet” dengan perasaan campur aduk. Mengingat tantangan manusia yang melanda planet kita tahun ini. Mereka berkomitmen untuk menyuarakan kesadaran akan lingkungan sekitar, dan mengajak para manusia lainnya untuk terus mengkampanyekan pesan yang perlu didengar, dan bersatu untuk melawan berbagai ancaman yang menghadang.

Nadjib Dwiki, menggambarkan prilaku kucing yang sulit di prediksi, memiliki beragam sidat dan kebiasaan yang kadang sulit dimengerti atau membuat kesal bagi orang lain. Dalam karya tersebut ingin menyampaikan bahwasannya kita harus memiliki pemahaman dan kesabaran untuk menerima perbedaan dan tidak bisa memaksakan pandangan atau cara berpikir kita pada orang lain. Kunam Drawing seorang pemural menggambarkan.

Acara yang sebagian besar kegiatannya berupa pameran dan pentas seni ini mendapatkan banyak antusias dari banyak kalangan. Acara Alpa 9 berjalan sukses dan sangat seru, terlebih sebelum acara ini dimulai sudah ada agenda publikasi offline di kampus dan di Jalan Ijen. Pada opening terdapat live mural, salah seorang mural artist top yang terlibat adalah Kunam Drawing dengan karakter satsetwatwetnya menuliskan “GAK KABEH DI AWOOR..aneh tapi nyata” (artinya tidak semua ngawur/ngaco).

Live mural hari pertama (dok. Alpa 9)

Semoga acara ini ditahun depan bisa lebih seru dan bisa menghadirkan karya-karya yang keren. Ditemui di akhir acara, Ketua HMD Sedesa, Fadlien Daniyoko mengungkapkan harapan acara ini bisa berjalan dengan lancar sampai akhir. “Semoga acara Alpa bisa berjalan dengan lancar dan menjadi ajang untuk bersosialisasi diantara mahasiswa sedesa pada khususnya dan dengan para seniman serta masyarakat pada umumnya”, pungkasnya. Ditemui di tempat berbeda Pembina HMD Sedesa Dr. Andika Agung Sutrisno, M.Sn., mengungkapkan kebanggaan terhadap semakin kreatif dan terencananya program dari HMD Sedesa UM, membuktikan semakin dinamis iklim organisasi sebagai lab eksperimental ide serta kerjasama tim.

Pertunjukan tari pada hari pertama (dok. alpa 9)

*Isa Al-fath Mutaqin akrab dipanggil Laputa, lahir di Jakarta 08 Agustus 2000. Seorang anak pertama dari 3 bersaudara, sedang berkuliah di Universitas Negeri Malang Fakultas Sastra, Jurusan Seni Dan Desain, Program Studi D4 Animasi. Pengurus Himpunan Mahasiswa Departement Seni dan Desain (HMD Sedesa) Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2020. Suka melakukan kegiatan yang berhubungan dengan seni, seperti menggambar, menulis, bermain musik, dan lain lain. Ingin berkenalan lebih dekat di Instagram @laputaalfth

Isa Al-fath Mutaqin
Seorang yang suka melakukan kegiatan yang berhubungan dengan seni, seperti menggambar, menulis, bermain musik, dan lain lain. | + posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *