Solusi Guru Untuk Merubah Paradigma Menggambar Gunung
Oleh : Anggi H Sumanto*
Materi seni budaya yang akan kita pelajari adalah menggambar keindahan alam. Hampir setiap peserta didik mendapat soal untuk menggambar dengan tema alam. Uniknya, setiap peserta didik mempunyai ide serupa yaitu menggambar dua gunung.
Keunikan pendidikan di Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan kaya akan suku, bahasa dan budaya, Setiap daerah mempunyai keunikan tersendiri dari bahasa, adat istiadat, tradisi, motif, tari, ragam hias. Budaya tradisi masyarakat yang kental masih menyelimuti di setiap daerahnya. Indonesia memiliki salah satu tokoh besar yaitu Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) sebagai bapak pendidikan dengan semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ingin Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.
Kalimat Tut Wuri Handayani di buat untuk simbol dalam dunia pendidikan. Ada hal unik dan menarik dalam pendidikan di tingkat dasar sampai menengah pertama. Yaitu sebagai peserta didik bahkan sudah menjadi sebuah tradisi tersendiri sebagai jurus pamungkas mata pelajaran menggambar pada tingkat sekolah menengah pertama mata pelajaran disebut “seni budaya”.
Gambar gunung
Dua gunung di tengahnya ada matahari bersinar cerah. Terkadang juga ada tambahan goresan manis dalam matahari berupa mata dan senyuman hangat sang mentari cuaca hangat. Terdapat bentuk awan di langit berhias burung-burung terbang santai menikmati sejuk suhu dingin gunung. Di sudut kanan atau kiri dan tengah terdapat sebuah jalan raya dengan sudut prespektif dihiasi Marka jalan garis putus-putus di tengahnya. Juga hiasan pohon-pohon miring di setiap samping jalan. Bentuk garis berpetak menggambarkan hening dan damai sebuah persawahan lengkap dengan padi dan gubuk di tengah sawah.
Masa peralihan dari sekolah dasar menuju ke sekolah menengah pertama, ide gambar seperti itu pasti muncul di tengah kelas seragam biru putih sebagai awal pemanis mapel seni budaya. Sebelum masuk di bab awal, tema menggambar flora, fauna dan alam benda. Secara tidak langsung itu merupakan PR (pekerjaan rumah) besar bagi Bapak Ibu guru dimana beberapa peserta didik masih mengeluarkan jurus pamungkasnya ” menggambar dua gunung” sesuai tradisi. Tanpa sengaja pembaca artikel sederhana ini mungkin juga pernah memakai jurus pamungkas itu, saat masih berseragam. Timbul sebuah pertanyaan dalam diri, apa ada jurus lain yang mampu mengimbangi jurus itu ?
Paradigma garis
Mencoba untuk mengajak peserta didik yang baru memakai baju biru putih untuk mengenal ilmu dasar seni rupa: yaitu titik, garis, bentuk, bidang, tekstur, ruang dan warna. Sebuah pertanyaan muncul untuk peserta didik? “apa ada yang bisa menggambar di kelas ini”? Tentunya ada yang angkat tangan dan tidak angkat tangan untuk menjawab pertanyaan tersebut beriringan dengan celotehan ceria khas anak-anak. Awal pembelajaran fokus dengan satu unsur dalam seni rupa yaitu garis.
“Garis itu muncul karena ada perbedaan warna” saat menjelaskan ke peserta didik. Unsur garis erat kaitannya dengan kehidupan. Setiap insan pasti memiliki bentuk garis di telapak tangan dan pasti mempunyai bentuk sidik jari di setiap jemarinya. Keunikan itu terletak pada tidak mungkin ada yang sama antara sidik jari satu dengan yang lain. Menandakan setiap peserta didik mempunyai karakter dan bakat yang berbeda. Jadi usahakan dalam pelajaran seni budaya hasil karya peserta didik tidak boleh sama satu dengan yang lain.
Konsep menggambar
Dasar menggambar itu terletak pada bentuk bentuk garis. Garis lurus, putus-putus, miring, zigzag, lengkung dan gelombang. Tidak ada peserta didik yang tidak bisa menggambar. Semua pasti bisa menggambar. Contoh garis miring, di tambah garis miring, ditambah garis lurus mendatar, maka hasilnya (A). Garis tegak lurus di tambah garis lengkung atas, tambah garis lengkung bawah, maka hasilnya (B). Garis lengkung berbentuk (C), garis miring ditambah garis miring, di tambah garis miring secara berlawanan arah akan membentuk (W). Bisa disebut juga potongan dari garis zigzag, garis gelombang di potong dengan pola vertikal akan membentuk (S). Tanpa disadari selama ini setiap hari di sekolah peserta didik itu menggambar dan menggabungkan bentuk garis yang sering di sebut menulis, jadi tidak ada alasan lagi di kelas bahwa peserta didik itu tidak bisa menggambar. Memberikan motifasi kepada peserta didik akan kesadarannya bahwa mereka semua bisa menggambar.
Solusinya adalah
Selanjutkan tugas pertama adalah membuat kolom dan menggabungkan semua bentuk unsur garis. Lurus, putus-putus, miring, lengkung dan zigzag. Tugas ke dua membuat kolom dengan ukuran panjang 30 cm lebar 1cm lalu mengkombinasikan tiga bentuk unsur garis. Dari kombinasi tiga garis hingga lima garis dalam satu kolom. Jika peserta didik mulai faham dan nyaman, dipersilahkan untuk bebas mengkombinasikan sesuai imajinasi masing- masing.
Hasil dari kombinasi garis dengan komposisi seimbang akan membentuk sebuah motif baru yang unik sesuai dengan karakter setiap peserta didik. Kemungkinan besar hasil karya yang muncul tidak sama dengan teman lainya, karena peserta didik mempunyai ide yang bebas memilih bentuk garis yang mereka sukai dan kehendaki. Melalui sentuhan mendasar dan sederhana diharapkan peserta didik setelah mempelajari dan memahami dasar ilmu seni rupa berupa bentuk garis, secara tidak langsung akan mempunyai jurus baru yang kedua dan menyimpan jurus pertamanya. Yaitu untuk mengerjakan tugas dari mapel seni budaya. Peserta didik akan lebih percaya diri dalam berkarya menggambar bentuk-bentuk motif baru dari hasil mengkombinasikan bentuk garis sederhana. Menggambar itu tidak sulit, yang sulit itu melupakan. Jangan pernah ragu untuk menggores sebuah garis. Jika sekali gores lurus, yah bersyukur. Jika sekali gores itu miring, ya takdir. Tetap semangat untuk mencoba dan belajar hal yang baru untuk menambah koleksi jurus yang dimiliki.

*adalah Perupa dan Guru Seni Budaya di SMPN 2 Porong Sidoarjo. Aktif di kelompok Pawitra Project. Silahkan bediskusi denganku di IG @anggiheru
Senang dg segala ocehan eksistensi alam , alarm dan kompas jagad berseni