BENGKELISUKARYARUPA

All Eyes On Rafah: Ai Vs Garis

Oleh : Yudha Prihantanto*

Kampanye penyebaran gambar yang bertuliskan: All Eyes on Rafah telah gencar diberbagai penjuru sosmed dalam empat hari kebelakang. Tepatnya setelah tragedi pengebomam di kamp pengungsian warga Palestina di perbatasan jalur Gaza yang telah dinyatakan sebagai zona aman. Ini bukan pembahasan tentang perang, lebih kepada visualisasi sebagai karya seni.

Kembali pada gambar ciptaan Ai bertuliskan All Eyes on Rafah, berlatar belakang gurun pasir penuh dengan balok-balok berjajar rapi. Dikutip dari Sindonews, All Eyes on Rafah yang artinya “semua mata tertuju pada Rafah”, dicetuskan oleh Richard Peeperkorn seorang direktur wilayah penduduk Palestina di organisasi Kesehatan Dunia.

Seperti maknanya, selogan tersebut telah berhasil mendapat banyak perhatian. Juga mengundang perbincangan tentang konteks pada gambar yang dijadikan template story di akun-akun Instagram.

Postingan berita yang diambil dari iNews.iD

Berawal ketika buka beranda akun instaram, saya dikejutkan dengan tampilan tersebut. Semakin mensecrooll, semakin bertemu taburan story dengan gambar yang sama. Baru saya pahami ketika saya dapati tentang postingan yang mengabarkan adanya tragedi Rafah. Saya mengulang kembali untuk melihat template story dari akun yang tadi saya jumpai.

Secara visual template tersebut memang sangat menggugah nurani sebagai bentuk simpati. Apalagi latar belakang dan momentum yang sangat menyentuh hati. Namun setelah saya amati lebih teliti, gambar tersebut tidak menggambarkan peristiwa pengeboman di Rafah. Kotak-kotak yang terlihat dari atas ditengah gurun tersebut seakan seperti truck container.

“Oh, container yang sedang mengirim bantuan untuk palestina”. Dalam batin saya mengira.
Lalu, Saya amati lagi seakan seperti bangunan tinggi.
“Wah, apakah Israel berhasil menguasai lahan tersebut sehingga akan dibangun gedung-gedung ya?, lalu apa maksudnya dengan Rafah?”. Imaji semakin bergejolak menerka.
Tak lama kemudian banyak bertebaran berita tentang tragedi pembantaian di Rafah.

Secara visual, template yang bertuliskan All Eyes on Rafah ciptaan Ai tersebut tidak mewakili apapun dengan konteks sebenarnya yang terjadi di Rafah kecuali padang gurun. Saya Kembali memastikan dugaan ini dengan berselancar sekedar kepo untuk mencari keakuratan informasi. Ternyata memang telah menjadi perbincangan banyak versi. Hingga sumber CNBC Indonesia juga memaparkan:

Postingan berita yang diambil dari CNBC Indonesia

Bergeser ke daerah sendiri, kemarin (30/05/2024) muncul gambar seorang gadis berbaju orange dengan bertudung. Gambar tersebut diberi judul “The Last Bread” artinya Roti terahir. Meskipun juga menggunakan tagar (#alleyesonrafah), gambar tersebut telah disukai tiga ribu sekian orang.

Postingan yang diambil dari akun Garis

Gambar tersebut dari akun @garisedelweiss, seorang seniman muda asal kota Pasuruan. Bukan tentang banyaknya yang menyukai unggahan gambar tersebut. Memang secara visualisasi kurang menggambarkan ketragisan yang terjadi pada Rafah. Tidak ada darah, tidak ada runtuhan gedung, tidak ada api dan sebagainya yang menyeramkan. Namun gambar tersebut memiliki representasi psikologi dari tragedi Rafah.

Adalah figur anak kecil berbaju oranye menggunakan tudung. Tatapan kosong kedepan. Disaku bajunya terselip sebatang bunga mawar dan tampak ada pin buah semangka.
Ternyata gambar tersebut menyiratkan anak kecil sebagai korban perang yang survive ditengah peperangan. Menggunakan tudung dari roti Pita sebagai roti khas daerah Palestina. Roti dari bahan tepung yang dimasak menggunakan alat sederhana.

Ilustrasi visual tersebut sebagai representasi bahwa tidak ada tempat aman di Palestina. Hingga anak kecilpun harus bertaruh kepada sekedar roti: untuk dimakan ataukah untuk perlindunugan dari serangan senjata? Dimana gambar anak kecil tersebut merupakan foto dari anaknya Garis sendiri. Ia membayangkan bagaimana jika keluarganya (anaknya) yang berada di daerah Rafah tersebut. Melalui intuisi dan keterampilan yang khusus, Garis menyajikan gambar tersebut menggunakan alat digital sebagai respon kepedulian terhadap tragedi yang menimpa di Rafah.

Gambar yang diambil dari potongan timelaps video proses berkaryanya Garis

Keadaan inilah dalam dunia visual disebut cyberspace adalah ruang artifisial (buatan) hasil kontruksi teknologis. Dimana situasi tidak sama sekali memiliki substansial dengan realitas. Sedangkan cybersemiotic merupakan tanda buatan dari tehnologi. Media tersebut sekarang telah menghegemoni ruang kreatif. Sehingga karya seni rupa dapat dengan mudah direkayasa tanpa membutuhkan keterampilan khusus. Hal ini disebut postmedia yang artinya post adalah merujuk pada sesuatu ‘setelah’, dan media merujuk pada tehnologi sebagai alat. Berarti postmedia adalah keadaan dimana tehnologi sebagai alat mutahir yang digunakan. Pada fenomena visual post-media seperti saat ini lebih menekankan pada dua kekuatan yang membentuk isi media tersebut, yaitu makna dan informasi. Bahkan reproduksi seni yang paling sempurnapun kekurangan satu unsur yaitu kehilangan eksistensinya (Walter Benjamin, 1968)

Kembali pada topik viralnya All Eyes on Rafah ciptaan Ai dengan The Last Breadnya karya Garis, meski sama-sama menggunakan tehnologi namun memiliki cita rasa sendiri. Hanya satu hal yang pasti terasa, yaitu Ai tidak mampu memvisualisasikan perasaan kemanusiaan. Akankah Garis mampu mewakili Ai? Siapakah si Garis?
Akan kita bahas di halaman selanjutnya.

*Seorang praktisi dan pengajar seni aseli Kota Pasuruan. Boleh juga menyapa di akun ig @yudha.visualart

Yudha Prihantanto
Praktisi seni, kurator, dan teman-temannya seniman at surup.co | + posts

Praktisi seni, kurator, dan teman-temannya seniman yang mengolah potensi seni dengan santai dan riang untuk kebermanfaatan bersama

Yudha Prihantanto

Praktisi seni, kurator, dan teman-temannya seniman yang mengolah potensi seni dengan santai dan riang untuk kebermanfaatan bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *