Study Tour Lentera
Oleh: Masloem*
Jika kau sibak malam takkan engkau temukan sinar surya, kecuali Lentera,
Pekat masih menyelimuti hamparan bumi hingga larut. Begitulah yang dirasakan oleh Wardi saat menemani Ninuk istrinya yang tengah berjuang segenap jiwa raga menghadapi proses persalinan Lentera. Jabang bayi yang telah dinanti oleh keduanya hampir satu dasawarsa. Penantian yang cukup lama untuk menunggu kehadiran bidadari yang dititpkan Tuhan melalui rahim seorang wanita paruh baya.
Usia Ninuk memang tak bisa lagi dibilang muda, ia menikah lima tahun lebih lama dibandingkan usia perempuan di desa itu yang menjadi teman sepermainannya waktu kecil dulu. Hingga akhirnya mengenal Wardi, staff kelurahan yang dimutasi ke pelosok desa yang dipagari oleh deretan pegunungan yang masih nampak kokoh dari kejauhan meski tebing-tebingnya telah compang-camping karena usaha tambang batu kapur yang digeluti oleh sebagian besar warga.
Lentera, bayi itu telah tumbuh lincah berlarian dari halaman rumah sampai ke tempat berkumpul keluarga di ruang tengah, tempat dimana keluarganya menyimak informasi dari pusat kota atau sekedar menonton sinetron bak telenovela ala negara Amerika Latin yang acapkali menguras air mata.
“Lentera…..”
“Hati-hati, Nduk. Jangan berlari terlalu kencang di dalam rumah” Seloroh Wardi mengingatkan anaknya agar tak terlalu kencang berlari.
Tubuh yang cekatan itu memang cukup energik saat berlari, seperti orang-orang kota yang beradu cepat di jalan raya sewaktu pagi tanpa lagi sempat bertegur sapa sesama pengguna jalan raya kecuali suar klakson yang saling bersahutan untuk sesegera mungkin diberikan jalan meski dengan menyerobot antrian lampu merah.
“iya, Pak”. Ujarnya dengan nafas yang tak nampak terengah-engah.
Maklum saja, sebagai anak pegawai negeri yang tinggal di desa, Lentera mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembangnya semasa Ia balita. Meskipun gaji yang sebenarnya tidak begitu besar namun cukup untuk hidup layak sebab tempat tinggalnya memungkinkan Wardi untuk mendapatkan komoditas pangan dengan harga murah. Apalagi Ninuk sebagai penduduk asli desa yang telah terbiasa untuk hidup sederhana. Ninuk juga pintar mengolah bahan masakan untuk dijadikan menu istimewa.
Setelah diingatkan oleh bapaknya, lentera tak melanjutkan permainannya sebagaimana biasa. Ia menghampiri bapaknya yang tengah memeriksa berkas administrasi pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah, meski hari ini sedang libur hari besar keagamaan.
“Pak…” Ucapnya lirih.
“Iya, Nduk” balas Wardi
“Liburan sekolah ini, Lentera ingin diajak jalan-jalan ke pusat kota. Boleh ya? ”
“Kenapa begitu? ” tanya Wardi sembari menutup dan merapikan berkas untuk mengakhiri pekerjaannya.
“Ya… Lentera ingin melihat hewan-hewan di kebun binantang, Pak”
“Lentera kan juga ingin melihat Dinosaurus, Masak cuman lihat di tivi saja”.
“Hah…dinosaurus?” Wardi mengernyitkan dahi
“iya…Pak, Dinosaurus”
“Kata Bu Guru, di kebun binatang semua hewan ada”
“Lagian… Lentera lihat di berita, katanya Study Tour sekolah sudah tak boleh diadakan karena banyak kejadian LAKA-LANTAS, Pak.”
250524
*Fasilitator di Universitas Yudharta. Pemerhati sosial, kebijakan, dan layanan publik yang berdomisili di Rembang-Bangil. Tapi lebih sering merhatiin senja yang ada kamunya