NAMPANGRUPA

Sambang Sinawang, Perupa Tretes Art Ajak Renungi Diri Lewat Komunikasi Sosial

Oleh: Zuhkhriyan Zakaria*

Malam itu (20/05/2024) berlalu sangat cepat. Setelah beranjak dari rapat perdana surup.co di ex Dingklek Numami, sekarang berganti nama King Cafe Depan Uniwara Kota Pasuruan. Saya yang sudah terlanjur janjian datang ke Qawa Cofee House, pada pukul 23.21 WIB menggeber motor Supra andalan.

Undangan dari Tretes Art

Alangkah senangnya bisa tiba di Qawa agar dapat menyaksikan pameran seni rupa rekan-rekan Tretes Art atau biasa disebut kelompok Banyu Netes. Meski jam sudah menunjukkan pukul 00.21 WIB (21/05/2024). Bersyukur masih ada Alfin Haris menyambut, dengan kata saktinya “santai Bang, tapi maaf teman-teman sudah pulang”. Hahahaha, kafe pun sudah akan tutup. Untungnya pameran berlangsung tiga hari dari 20 sampai 22 Mei 2024.

Terbayar dengan indah, 24 karya-karya yang dipajang dari 10 perupa membuatku terpana. Tetap dengan karakter warga Tretes dan Pandaan yang penuh dengan kegelisahan dan luapan ekspresi. Penataan ruang yang tak terasa ini adalah sebuah pameran, karena mengkombinasikan karya dengan interior Qawa yang bergaya retro eksperimental.

Suasana ruang pamer Tretes Art di Qawa Kafe (dok. Tretes Art)

Pengantar pameran pada katalog menuliskan:

“Mengawali perhelatan seni rupa dengan bermacam-macam sebuah tajuk. Berkembangnya seni rupa yang ada di Kabupaten Pasuruan. Tretes art kelompok banyu neles. Turut hadir di kanca khasanah berkesenian yaitu seni ruра”.

Lumayan perkembangan dan minat dari rekan sejawat yang turut meramaikan ajang kali ini dengan mengusung art space caffe untuk menyemarakkan bulan menggambar. Kami, kalian semua boleh ikut serta untuk menyemarakkan.

Alih-alih gabut ya mending nyeni. Gagal terus judi online ayolah coba menggambar alau menyanyi tralala trilili. Dengan rasa cinta tertulis dalam media gambar, instalasi dan lain sebagainya.

Mungkin rasa khawatir itu bisa diabaikan begitu saja dengan kalian para dalang yang ikut bahagia hahaha hihi bersama kami di Sambang Sinawang. Kunjungi untuk bertemu dan menikmati pekerjaan. Ingatlah bahwa kebahagiaan itu penting. Berkomunikasi satu sama lain adalah kuncinya.

Saya mencoba menelisik beberapa karya yang terdisplay cantik, berikut ulasan sederhanya:

Chanib, dengan karya Hilang dalam Terang, mencoba mendiskusikan peristiwa dan peninggalan sejarah.

Anto Sukamto bercerita dan berdoa tentang Dewi Kemakmuran Dewi Sri yang melindungi pertanian dan menjaga keselarasan alam.

Andri Harianto yang biasa memfabelkan figur, saat ini melukai kedua tangan dengan tertusuk panah.

Sugeng Paijo piawai dalam mengelola ranting dan daun membentuk hati, sekilas seperti tanaman Tanduk Rusa. Setelah diamati lagi seperti anatomi organ Jantung Bumi.

Alfin Haris Gepeng dengan keriuhan garis dan warna, bercerita tentang siswanya yang melakukan aksi bun*h dir*, menuliskan pesan “kalo aku m*ti, kamu nagisnya jangan lama ya! Langsung ke rumahku ambil makan lanjutkan hudupmu”. Karyanya berjudul Nikmate Wes Ganti.

Novi Agus Siswanto bermain ular tangga dengan motif papan catur berisi icon-icon imut, karya ini berjudul Permainan 1, mengkritisi masifnya game online.

Yayak menggambar tumpukan kain, diatasnya ada tempeh dan rumah joglo, melayang kursi plastik mengajak merenungi kembali taraf hidup layak berupa sandang, pangan, papan, dan ditambahkan olehnya satu lagi yaitu jabatan.

Kharisma Adi bereksperimen dengan bahan dan visual. Dia mengkolaborasikan ekstrak Kelor. Buah Maja, dan Mahoni diatas kertas daluang, kisah dari karya ini nampaknya harus diulas pada bagian yang lain.

Liesyani Kusuma Dewi terpesona dan mempesonakan lansdcape dari beragam belahan dunia yang kaya akan bentuk dan warna, dia dengan berani mengkomposisikan warna-warna primer dan tertier dalam media kanvas.

Tidak kalah beraninya Syafiq Al Farizi mencoba memekakan mata dengan visual mencolok, fokus visual dihancurkannya dengan beragam objek. Langkah mata menjadi tajuk karyanya, yang berbahan akrilik diatas kanvas, serasa empasis pada pameran ini. 

Japra memvisualkan sesosok mahluk bertaring yang tersiram cahanya putih, karya berlabel “mengHARAP” menelisik sisi kehidupan yang selalu mengharap lebih.

Sungguh sebuah sajian dengan keintiman, identik dengan kedalaman makna. Latar belakang perupa yang beragam, membawa kita masuk pada dimensi berbeda.

Beberapa karya Tretes Art pada Sambang Sinawang (dok. Tretes Art)

Seminggu ini terpantau ada tiga agenda pameran seni rupa asyik yang diselenggarakan oleh perupa Pasuruan, termasuk Sambang Sinawang oleh Banyu Netes di Qawa Pandaan Pasuruan, Jazz Dluwang oleh Alkmaart kolab Distrik 12 di K-Naya Purwosari, dan Cool Time oleh Pawitra Project di Vinautism Gallery Surabaya.

Semoga Sambang Sinawang yang secara bahasa Indonesia berarti berkunjung untuk melihat menjadi ajang silaturahmi dan mengasah apresiasi artistik untuk pengunjung dan penikmat seni.

*adalah pengamat seni rupa, teman diskusi, dan pengajar di Unisma Malang, tinggal di Nongkojajar Pasuruan. Untuk berteman dan cakap-cakap bisa ke IG @zuhkhriyan

Zuhkhriyan Zakaria
+ posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *