Balada Korek Jos
Oleh : Mocceko
Sejenak, kok rasanya kurang enak. Waktu aku coba bersua ke rumah seorang teman yang berada di pinggiran sawah. Waktu itu tiba-tiba saja mengeluarkan korek bensol plus rokok kretek dari sakunya. Tanpa sungkan dan tanpa dehem-dehem, kok aku langsung saja ambil satu batang, dan mengapinya dengan koreknya. Lantas kita berdua ngobrol saja, ngetan-ngulon, bukan ngalor-ngidul, yang artinya garis besar obrolan kita bernafas ke-Tuhan-an gitu lah. Kok bisa gitu? Bukankah seringkali kita lontarkan frasa, kalo ke Mekkah itu ke barat, yang dalam bahasa jawanya adalah Ngulon. Mekkah itu kalo dari sisi pandang orang Indonesia, yaitu ke barat. Tempat dimana umat islam sedunia beribadah haji, umroh, atau malah berbisnis dan sekadar plesir. Oh itu diluar konteks.
Sambil sebal-sebul berbatang rokok kretek, kita enak saja ngobrol ini-itu, yang ujung-ujungnya menanyakan, “Kok bisa sih ormas ikut andil dalam pengelolaan tambang?” Padahal dulu NU mengharamkan kerusakan lingkungan, kok sekarang menghalalkan?”. Kata akar rumput Nahdliyin yang menolak keputusan PBNU kelola tambang Nusantara, bahkan Nahdliyin alumni UGM tersebut, desak PBNU batalkan pengajuan izin tambang.
Rokok kretek temenku itu, mantap benar. Koreknya pun begitu. Sekali dipantik, langsung nyambat tembakau rokonya. Kalo boleh kasih nilai, A plus lah. A untuk rokoknya, plus untuk koreknya. Sebut saja korek jos.
Suasan yang syahdu, temaram, angin malam dan suara jangkrik, semakin jangkep saja suasanya. Paket komplitlah bisa dibilang. Sebal-sebul saja pokoknya. Rokok bagi kaum laki-laki yang suka kopi, memang menjadi kebutuhan primer dalam tongkrongan. Tapi kalo kehilangan rokok, gak seberapa sih merah marahnya. Sedangkan kalo kehilangan korek, jengkelnya itu bisa nembus ubun-ubunlah bisa dibilang.
Singkat cerita, waktu pulang dari rumah temanku itu. Korek jos tadi, kutemukan disaku celana sebelah kiriku. Entah bagaimana kronologi korek jos itu menyelinap, mengendap-endap, terus bisa sampai masuk saku celanaku itu, spesifik sebalah kiri. Apa karena korek jos itu ke-kiri-an alias Marxis atau sosialis. Ah, bisa saja kelabu akal ini. Sambil tersenyum, kutaruh kembali kemeja korek jos itu. Sambil berharap semoga temanku itu enggak marah yang sampai ke ubun-ubun emosinya dan masih menawariku rokok kretek mantap itu. Lantas aku membayangkan ketika aku bersua kembali ke rumahnya, dan dengan senyum-senyum, ku pinjami korek jos yang sebenarnya koreknya.
Sejenak, kok rasanya kurang enak.
*Seorang yang tinggal di dusun yang gak bersusun, kadang bersosial media, kadang bermasyarakat tapi secara mutlak warga dunia. kalo maen ig, silahkan tengok @mocceko