Ironi
Oleh: Fajar Muhammad*
Mengambil sikap gagah yang bertolak dari lemahnya berucap
Menjadikan istimewa dapur kebanggaan yang hampa
Dan suara bising akan “aku adalah aku yang aku lah segalanya menjadi aku”
Namun cemas, wajah pencarian semu, kecurigaan tak berujung
Kegelisahan menjadi lembaran-lembaran yang tak terbaca
Setiap pagi menata piala-piala guna tetap nyala menyilaukan mata
Lupa bahwa silau tak ubahnya membutakan mata
Mata aku, mata kau, mata mereka yang hanya menimbulkan gelap tak beralamat
Dipasangkan wajah gagah pada figura penuh ornamen yang dibentuk dengan gegabah
Dadanya membusung untuk menciptakan sudut pandang tak terelak oleh suatu apa
Mendongakkan kepala kian tinggi agar yang dihadapannya kian menunduk
Sebab tunduk adalah patuh
Sebab patuh adalah pengendalian penuh
Ia lupa kian kepala mendongak maka jalan tuju takkan lagi menampak
Pada tiap jengkal tapak tak lagi kebeneran tersibak
Hanya wajah keangkuhan yang kini berdiri tegap di depan cermin yang ia tatap
Sungguh ironi manusia yang berdansa dengan jerat besi di sekujur tubuhnya.
*adalah penyair muda dan pendidik asli Kota Pasuruan. Boleh @menghambapadapuisi dong akun instagramnya