Odol
Oleh : Masloem*
Kamu…iya, kamuuuu…yang pada seputaran tahun 2005 pernah mengalami masa muda di Kota Malang pasti tidak asing dengan “kastol”. Sebab pada kurun waktu tersebut banyak anak muda terutama kalangan pelajar/mahasiswa yang memasukkan kastol dalam daftar putar di personal computer mereka. Jika kamu adalah generasi masa kini yang belum tahu kaitan antara kastol dan daftar putar, sebaiknya kau lahap ‘kudapan’ literasi ini hingga tuntas…tas!
Baiklah, aku jelaskan: ini bukan tentang merek lem! Meski kastol (kini sudah googling kan? hehehe…) saat itu seolah menjadi media perekat baru yang cukup kuat dalam menambah keharmonisan hubungan pertemanan. Kastol menjadi ‘menu wajib’ untuk didendangkan disela ngobrol ngalor-ngidul saat berada di tongkrongan atau saat sedang tidak main futsal?
Kastol adalah sebuah lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik Tani Maju. Kastol diracik dengan komposisi lirik yang antimainstream dan irama yang ‘cukup berantakan’ dari sisi ‘pakem’ genre musik saat itu yang cenderung mendayu-dayu ibarat nyiur di pantai yang tengah melambai akibat terdorong oleh tiupan angin sepoi-sepoi.
Tapi, dapatkah kamu menemukan persamaan dari “Kastol” dan “ODOL” selain dari akhir suku katanya yang sama-sama berbunyi “ol”?
Ya, ‘Ngawur’…
Jika, “kastol” hanya terkesan ‘ngawur’ namun justru menonjolkan sisi kreatifitas seorang seniman. Lantas, kengawuran ODOL hanya menampilkan aspek bahayanya semata!!!
Kok bisa? Lihat saja ketika Kamu berselancar di jalan raya, entah di jalan tol maupun non-tol.
Keberadaan ODOL (Over Dimension Over Loading) cukup mengkhawatirkan karena kendaraan berat jenis ini memiliki dimensi dan muatan berlebih dari aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai pemegang regulasi keamanan dan kenyamanan berkendara di jalan raya. Aturan dibuat untuk keselamatan bersama seluruh pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki hingga mereka yang naik kendaraan dengan jumlah roda 2, 4, dan bahkan lebih dari itu. Tentu saja ada banyak hal yang melatarbelakangi fenomena ODOL ini, yang paling utama adalah menekan biaya pengiriman agar lebih efisien sehingga dapat menekan harga yang ditimbulkan dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan sejak barang itu diproduksi hingga sampai ke tangan konsumen. Namun, apakah efisiensi biaya semacam ini sebanding dengan potensi kerugian apabila terjadi kecelakaan di jalan yang diakibatkan oleh ketidak sesuaian peruntukan kendaraan dengan bobot muatan yang diangkutnya.
Menurut data Kemenhub, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, kecelakaan lalu lintas pada 2021 jumlahnya mencapai 103.645 kasus dan 17 persen diantaranya disebabkan oleh ODOL (https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20221206112708-579-883424/tak-diundur-lagi-basmi-truk-odol-dilaksanakan-2023). Meski telah disosialisasikan program “Zero ODOL” yang diimplementasikan tahun 2023, kebijakan ini masih belum sepenuhnya berjalan dengan efektif karena muncul wacana penolakan terutama dari kalangan industri (https://otomotif.kompas.com/read/2023/02/03/070200215/masih-ada-penolakan-zero-odol-mundur-lagi-ke-2024) yang menginginkan untuk penundaan implementasi kebijakan tersebut.
Memodifikasi kendaraan semacam ODOL ini tidak termasuk dalam sebuah karya inovasi alih-alih bernilai seni (sebagaimana lagu kastol di atas), yang justru memiliki dampak terhadap keselamatan jiwa manusia itu sendiri. Apalagi sering kita jumpai masih banyak remaja kita yang kerapkali dengan sengaja tiba-tiba menghentikan truk sedang melaju di jalan raya untuk dimintai tumpangan, tentu saja peristiwa semacam ini tidak patut kita tiru, karena pasti membahayakan!
Sudah bukan zamannya lagi anak-anak muda ingin tampil mengesankan didepan sebayanya dengan cara nggandol truk semacam itu agar dikira hebat. Maskulin atau bahkan sakti mandraguna. Kamu bukan Gatotkaca yang punya otot kawat balung wesi! Kalau ndilalah malah Otot Kawat Balung Thok! Apa ya nggak malah cilaka dua belas?
Cara-cara semacam itu sudah kuno, Nggak mau tho kalau kamu dianggap kampungan??? Ikutilah kegiatan-kegiatan positif yang sekiranya mampu meningkatkan keterampilan dan pengetahuanmu sehingga nantinya dapat bermanfaat untuk menunjang kehidupanmu di masa yang akan datang.
Makanya…daripada kamu sore-sore nyegat ODOL, mending naik OJOL, saat sampai di rumah, ditemani secangkir kopi, berselancar di surup.co sembari muter lagu kastol yang kini jadi kesukaan kamu. Mantabbb…bukan
*Profil penulisnya masih sama dengan tulisan lainnya yang sudah orbit disini saat surup. Pemerhati sosial dan kebijakan saat senja.