NAMPANGRUPA

Jazz Dluwang: Improvisasi Melodi Visual dalam Kertas Bekas

Oleh Zuhkhriyan Zakaria*

Pameran seni rupa hasil kolaborasi antara Aliansi Kreator Mahardika Art (Alkmaart) dan Distrik 12 yang keduanya berbasis di Purwosari dan sekitarnya. Mengusung tema yang meminjam istilah dari dunia musik, yaitu Jazz, serta elemen tradisional Jawa, yakni Dluwang (kertas). Kata jazz merujuk pada elemen penting seperti blue notes, improvisasi, polyrhythms, sinkopasi, dan shuffle note. Dalam konteks ini, jazz bukan sekadar genre musik, melainkan sebuah filosofi kebebasan dan spontanitas yang diterjemahkan ke dalam medium seni rupa berupa kertas bekas.

Total enam belas (16) perupa terlibat aktif memajang karya. Perupa tersebut diantaranya; Arman Baktis, Zalya Mahardika Trie Agustin (Aya), Bagus Prio Sembodo (Bagus Alugara), Bagus Wirawan (Cah Bagus), Abdul Muklis (Chicis), Murdiono (Dyon), Nela Cahya Anggaini (Encahya), M Habibi Rokhman, Jeffry D. Setyawan, Jek Kalbisk, Widya Shafa Jhunica Pangestu (Jhunica Art), Sindikat Koplax, Oki Firdiansyah (Slopok), Febri Ardiansyah (TM), Wahyu Nugroho, dan Yoes Wibowo. Mereka memamerkan karya seni rupanya dalam ruang pamer K-Naya Space. Memperingati Bulan Menggambar Nasional dan Ulang Tahun K-Naya Space yang ke-2.

Dluwang atau kertas adalah capaian sejarah terbesar bidang kearsipan dan penulisan. Riwayat kertas dimulai di Cina sekitar 109 SM, dibawa ke Eropa melalui penangkapan ahli kertas Cina oleh orang Islam saat Kekhalifahan Abbasiyah dan Dinasti Tang berkuasa. Produksi kertas Eropa pertama terjadi di Jativa, Spanyol, pada 1151, sebelum adanya teknik mencetak, pabrik kertas pertama dalam wilayah Islam pun berdiri di Samarkand .

Nusantara mengenal dengan pola teknik tradisional melalui bahan mentah yang umumnya terbuat dari kulit kayu paper mulberrybroussonetia papyrifera vent” atau yang dalam tradisi masyarakat Sunda dikenal dengan nama pohon Saeh, Jawa (glulu/galugu), Madura (dhalubang/dhulubang), dan di Sumba Timur dikenal dengan nama Kembala.

Jazz Dluwang memadukan semangat kebebasan dan improvisasi jazz dengan media dluwang, kertas bekas yang penuh sejarah, menciptakan karya seni yang menghidupkan kembali narasi masa lalu melalui sentuhan kreatif. Setiap serat dluwang menjadi metafora kekuatan dan ketahanan, tempat seniman mengekspresikan diri dengan teknik acak dan bermain, menghasilkan karya unik yang mencerminkan dialog antara masa lalu dan masa kini, tradisi dan inovasi.

M. Agus Mauludin sebagai ketua pelaksana mengungkapkan selain pameran seni rupa, turut dihangatkan dengan penampilan  Aji D.S feat Praga SK, Halaman Pengelana dari Sidoarjo, Tari Gamyong Mari Kangen oleh Laluna, live mural oleh Kunam Drawing dan TM. Selain itu digelar pula lomba menggambar bekerjasama dengan Leeven & Co, diskusi seni dan bedah karya, workshop alat musik, serta workshop cukil.

Narasi improvisasi melodi Jazz yang ingin dibangun dari setiap perupa adalah:

Arman Baktis, Menuliskan, pesan dalam karya ilustratif akrobatik kata:

THE HIEROPHANT

The hierophant cord implies someone Who has exceptiorat Knowledge. Every Community includes pre or two people pusho achieve a measure of wisdom. this cord Bints to you as as sompone with inner knowledge above and beyond schooling, who may even be able to contact The spions world on behalf of others

inancient Times Shamans were epiece and Astrologers, os wella special In the al alchemy of metallurgy and nowadays the HIEROPOST Represents Those hero have realized knowledge in any chosen eg enfield field.She orke speaks wisely from True and direct experience, and serves in a Feeder ship rate.

Meski karya ini diambil dari ramalan tarot soal cinta, menjadikan hubungan antara sepasang kekasih yg berjalan lancar meskipun membosankan. Namun makna harapan pada Hierophant melambangkan seseorang dengan pengetahuan luar biasa dan kebijaksanaan mendalam, mampu menjembatani dunia spiritual dan dunia nyata, serta bertindak sebagai pembimbing bijak bagi komunitasnya.

Aya, mengusung beberapa karya goresan pensil berwujud gambar ikonik ditempel pada koran rubik promosi. Karya berjudul BOREDOM menempatkan kritik pada kondisi emosi yang ditandai dengan ketidaktertarikan pada lingkungan sekitar, sering kali disebabkan oleh gangguan atau pekerjaan. Baredom, sepintas seperti jenis suara Bariton biasanya pada pria dewasa ditandai dengan suara bass dan tenor. Pesan ekspresif tentang rutinitas yang mengakibatkan kelalaian fungsi dan kontribusi pada lingkungan (kebisingan aktivitas).

Bagus Alugara, merespon kertas koran yang secara verbal mengkritik dengan WARTA SALAH KAPRAH menggunakan ballpoint memvisualkan wajah terpejam hingga mengering menjadi tengkorak. Kebenaran informasi semakin sulit didapati dan sering menimbulkan emosi serta penghakiman tanpa dasar, menciptakan situasi di mana berita salah kaprah menjadi biasa, yang menurutnya merupakan “Genosida Akal Sehat.”

Cah Bagus, mengimprovisasi melalui gambar pada bahan paling digemari dalam dunia bangunan, yakni asbes. Asbes memiliki sifat tahan panas, tahan api, dan isolatif. Berfantasi dengan bunga Daisy ditanam dalam kepala Sumo, mengisyaratkan simbol ketulusan, kemurnian, kelahiran kembali, dan keceriaan. Media dan wujud karya imut nan gelap ini mengajar kita masuk dalam kesunyian, meskipun demikian tetap menghasilkan ide dan gagasan segar.

Chicis, piawai mengimprove dalam mengelola organisme visual gambar. Kertas terasa diretas dengan bolpoin aneka warna. Entah apa yang terpikir dalam judul karya Deprezion II, sepintas dia ingin menatap pecahan ingatan dan kewarasan dalam mencari kemungkinan wujud karya. Alur yang mengulur-ulur dan mbliyur/berliku tak teratur membuat cerita sulit diikuti, seolah terjebak dalam putaran tanpa arah yang jelas. Pembaca terombang-ambing tanpa petunjuk pasti, menjadikan pengalaman membaca seperti menavigasi labirin yang membingungkan.

DYON, membuat gambar bahkan terkesan bahwa kertas kalah persis, nah bingung ya? Bisa dilihat dari karya Lungset #1. Keahliannya dalam teknik menggambar menghadirkan kepuasan tersendiri, antara rasa berat, volume, kepadatan, dan kedalaman bentuk tercipta dalam ruang dua dimensi.

Encahya, lihai menggambar refleksi/cermin pada air yang semakin ada gelombang datang maka bertambah goncangan berkali-kali lipat. Inilah yang digambarkan dalam karya Dysmorphia, diambil dari pengalaman seseorang yang merasa lelah dan terus-menerus bercermin, serta berulang kali bertanya kepada orang lain tentang penampilannya. Gangguan dismorfik tubuh atau Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah gangguan kesehatan mental dimana seseorang tidak bisa berhenti memikirkan kekurangan dalam penampilannya.

Jeffry D. Setyawan, menggambar visual yang paling populis yakni tengkorak dan ular. Kendati demikian kesan santai namun angker dan garang tergurat jelas di karya Skull and Flower bermakna tertekan oleh himpitan sekitar. Konsep “dibalik kesenangan pasti ada kesedihan dan begitupun sebaliknya. Tetaplah hidup walau tidak berguna, menyalah abang ku”.

Jek Kalbisk, berupaya mengumpulkan donasi melalui sumbangan benda berharga dari pengunjung. Memanfaatkan media kardus dihias dinosaurus. Karya Dino Dungo, berusaha mendekatkan diri pada sesama dan sang pencipta melalui dungo (doa).

Jhunica Art, menggambar meminjam gaya 5D Diamond Painting, memberikan kesan yang sangat berkilau dan kuat. Karya berjudul Putri Indonesia menyampaikan seorang wanita yang cantik menjadi makin cantik dan berkilau. Sebuah manifestasi dari kecantikan yang murni dan penuh warna, wanita asia dengan kilauan kulit yang khas seperti emas, keanggunan tersemat dalam wajah yang penuh dengan ketulusan, menjadikannya berharga lebih dari segunung harta dunia.

Sindikat Koplax, melalui judul yang juga nama organisasi Food Not Bomb, karyanya memanfaatkan grafis cukil dan coretan pada kertas bungkus semen mengajak mengenang Keith McHenry. Keith McHenry pejuang dan seniman berfokus pada mengatasi kelaparan dan memprotes kebijakan militerisasi dengan mendistribusikan makanan vegetarian gratis kepada mereka yang membutuhkan, sambil mempromosikan perdamaian dan keadilan sosial.

Slopok, menggambar menggunakan pensil wujud belantara kekeringan dan kematian. Mengangkat tajuk Nothing Last Forever, segala sesuatu dalam hidup, baik itu kebahagiaan, kesedihan, kejayaan, atau kesulitan, bersifat sementara dan akan berakhir pada waktunya. Ungkapan ini mengingatkan kita untuk menghargai setiap momen yang kita miliki, karena perubahan adalah satu-satunya hal yang konstan dalam kehidupan.

Tm, menggambar dengan puitis sisi pribadi kehidupan yang kasat mata namun tetap dilaksanakan karena keimanan Becik Ketutup Olo Ketoro, Apa yang di lihat bukan yang di rasa. Tm berpesan:

Sisi lainnya adalah soal harapan, apa yang direnungkan itu yang disampaikan. Lewat kesedihan, cermin menamparkan realitanya. Di dalam kaca aku ingin menyapanya, menyebut Tuhan. tidak pantas di untuk didengar.

Wahyu, membangun narasi Intuitive Drawing yang telah menjadi bagian dari proses panjang kekayaannya. Goresan yang didasari tanpa perencanaan atau pemikiran yang mendetail, mengikuti insting dan perasaan untuk membiarkan gambar berkembang secara alami. Teknik ini memungkinkan kreativitas mengalir bebas, menghasilkan karya seni yang spontan dan ekspresif. Membentuk sebuah patron berkarya yang lebih mengandalkan improvisasi.

Yoes Wibowo, kata image, imagine, dan imagination (gambar, bayangkan, dan imajinasi) tersemat jelas dalam karya. Menggunakan material kardus, buku, kalkir, terbingkai rapi. Wujud organ jantung, aneka tubuh modifikasi satwa, bermakna detak kehidupan adalah lingkungan yang selaras dengan zaman, kerap disebut peradaban. Menurut Yoes “dekat dengan alam, termasuk menjaga pohon, mengkonsumsi bahan alami, dan merawat tanaman serta hewan ternak, adalah komponen penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental”.

Harap pada Jazz Dluwang: improvisasi melodi dalam media visual adalah menjelajahi alunan spontanitas alami melodi, menggali esensi, menggabungkan kehalusan dengan dinamika jazz. Wujud melalui medium dluwang kertas bekas. Menghadirkan seni rupa yang hidup dan dinamis. Pameran ini ingin mengajak kita melihat bagaimana seni menjadi jembatan antara yang lama dan baru, terstruktur dan bebas, dalam harmoni tak terduga namun memikat.

*) adalah pengamat seni rupa, teman diskusi, dan pengajar di Unisma Malang, tinggal di Nongkojajar Pasuruan. Untuk berteman dan cakap-cakap bisa ke IG @zuhkhriyan

Zuhkhriyan Zakaria
+ posts

6 komentar pada “Jazz Dluwang: Improvisasi Melodi Visual dalam Kertas Bekas

  • selalu berkembang dan semangat untuk mengenalkan kesenian kepada masyarakat umum untuk mencapai tujuan yang di inginkan

    Balas
  • Kompliketed. Langsung wareg setelah baca.

    Balas
    • Wiihh.. bisa mareg’i gitu ya… Tingkyu

      Balas
  • Berkarya memang tidak boleh kenal dengan kata surup walaupun terkadang masa surup itu menyapa. Sukses selalu buat para pecinta dan penikmat seni. Semangat berkarya untuk anak bangsa.

    Balas
    • Begitu ya Bang. Siap Bang, Terima kasih

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *