BUDAYARupaSastraSpiritual

Mukadimah Kuratorial “Nderes: Risalah Salafiyah Pasuruan dan Riwayat Peradaban”.

Majelis Kurator: Alfarabi Shidqi Ahmadi, Yudha Prihantanto, Ragil C. Maulana

Assalamu’alaikum.
Selamat datang di Pasuruan, madrasah akbar tempat para alim merawat limpahan ayat-ayat bumi dan langit. Di sini, kita bisa mendaras dan menafakuri kembali tiap tetes saripati kalam dari berbagai penjuru dunia. Sebab, sejak dulu kala, di sini pula benih-benih hikmah wingit tertabur di antara semak belukar. Benih-benih hikmah itu lalu tumbuh sepuh, menjulang, dan warga dunia berbondong datang menderes legit nira ilmunya, berabad-abad lamanya, sambang-sambung terus-menerus tak kunjung habis.    
Di tengah daras-deres ilmu yang belum mau tuntas itu, Pasuruan juga mengalami arus deras banjir informasi dan gelombang tsunami kecerdasan modern. Sama seperti wilayah urban lain di dunia ini, pembangunan dan industrialisasi di Pasuruan tak terelakkan. Dalam deru laju urbanisasi ini, para sahibul hikmah dan pewarisnya kerap diminta turun maqom semata sebagai sumber doa mujarab untuk melunasi utang bank. Atau, lebih pilu lagi, hanya diingat jika punya riwayat keramat. Gairah daras-deres ilmu tadi tergerus sampai tipis. Demikianlah kenyataan hari-hari ini. Miris.
Barangkali, persoalan terbesar zaman ini bukanlah miskin kecerdasan. Tetapi, kita mulai kehilangan cara belajar. Pengetahuan hari ini melaju satset watwet, tapi kita tak sempat melakoninya secara khusyuk dan tumakninah. Kita menghadapi data berlimpah tanpa sungguh-sungguh mau mendaras hikmah. 
Di tengah arus seperti itu, pameran seni dan manuskrip ini hadir bukan untuk mengajak berlindung pada tameng masa lalu. Hajatan ini beserta seluruh untaian peristiwa di dalamnya adalah undangan untuk mendaras dan menderes bersama jejak ilmu. Jejak itu nyatanya masih melangkah dalam kenyataan Pasuruan masa kini. Jejak-jejak itu menyatu dalam aksara, bahasa, dinding kota, kiblat masjid, warung kopi, karya seni, dan degup hidup sehari-hari lainnya. Kami hendak mengajak khalayak masuk ke medan kesaksian atas itu semua.
Manuskrip adalah salah satu pintu masuknya. Melalui 20 manuskrip para ulama Salafiyah Pasuruan yang dihimpun oleh tim riset LPPM Ma’had Aly, kita bisa melihat bahwa naskah para masyaikh tak pernah hanya berisi teks. Di dalamnya juga hidup sanad keilmuan, percakapan lintas zaman, estetika bahasa lintas bangsa, silang pendapat, hingga perjalanan batin para penulisnya. Manuskrip adalah tubuh khusyuk yang mendekap ilmu, seni, dan spiritualitas tanpa selaput batas.

Penangangan manuskrip oleh tim riset LPPM Ma’had Aly

Namun demikian, manuskrip hanyalah satu lapis dari ekosistem yang jauh lebih luas. Di sekelilingnya tumbuh pesantren. Juga para santri yang menekuni majelis solawat, tradisi ziarah, haul, sowan, safari dakwah, dan berbagai bentuk medan perjumpaan lainnya. Semuanya membentuk lanskap pengetahuan yang bergerak nonstop, seperti tasbih kosmik yang terus berputar pada orbit tauhid. 
Dalam lanskap yang demikian, kita juga bisa insaf tidak lagi memandang Pasuruan hanya sebagai teritori lokal, sebagai kota-kabupaten di tepian. Sebab, sesungguhnya, peradaban Pasuruan itu bermaqom internasional. Di Pasuruan, percakapan global berlangsung seperti wirid yang tak pernah putus. Manuskrip-manuskrip Salafiyah dan ekosistem yang bertawaf di sekitarnya dapat memperlihatkan hubungan mesra Pasuruan dan dunia melalui bahasa, sanad, rujukan kitab, maupun jejaring intelektuil. Selama ini, semua itu mungkin tampak lokal bagi mata awam. Tetapi, jika kita tatap dengan mata awas, di balik segala tubuh lokal itu sesungguhnya bersemayam ruh perjumpaan lintas wilayah, lintas budaya, bahkan lintas bangsa. Dan itu semua telah berlangsung sejak berabad silam. Hanya saja, sebagaimana kisah-kisah para waliyullah di jalur mastur, Pasuruan menolak takabur. 
Bukan pembangunan atau lalu lintas industri yang bikin Pasuruan jadi bermaqom internasional, tetapi riwayat panjangnya sebagai ruang simpang. Di Pasuruan, perjumpaan berbagai tradisi pengetahuan dunia terjadi sepanjang waktu. Di sini, misalnya, aksara Arab kawin-mawin dengan bahasa Jawa dan Madura dalam mahligai tradisi Pegon. Bahasa Arab juga meresap dalam tubuh dialog keseharian warga setempat; kitab-kitab ulama Timur Tengah hidup dalam napas keseharian masyarakat Nusantara; sementara para ulama terus mengolah itu semua menjadi dalil dan fatwa yang relevan bagi zamannya. Gelagat global memang tidak selalu berasal dari pusat-pusat metropolitan. Gelagat itu juga bisa tumbuh dan hidup dari ruang-ruang belajar yang diriuhi nadzam; dari lembar kitab yang menguning di sela kibar sarung.
Lebih jauh lagi, ekosistem keulamaan Salafiyah Pasuruan juga menunjukkan leburnya spiritualitas dalam kehidupan intelektuil maupun artistik. Bagi para masyaikh, menulis kitab adalah ibadah. Menghias marginalia manuskrip adalah gelagat merayakan ilmu. Mengajar, menyusun syair, mengamati langit, hingga merawat hubungan antarmakhluk merupakan amalan harian di jalan kehambaan pada Sang Khalik. Dalam riwayat peradaban seperti ini, jalan ilmu tidak hanya menuntun pada apa yang benar, tetapi juga pada segala yang indah, baik, dan maslahat.
Atas dasar itulah, sebagai rangkaian Haul KH. Abdul Hamid bin Abdulloh ke-45 dan Haflah Biennale Santri 2025-2027, hajatan ini disusun sebagai sebuah ruang perjumpaan lintas praktik. Pameran karya seni dan manuskrip, safari galeri, majelis diskusi, lokakarya, kuliah umum, panggung pertunjukan, maulid Nabi, solat berjamaah, dan berbagai peristiwa lainnya dalam hajatan ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri-sendiri. Seluruhnya adalah ikhtiar untuk mendaras riwayat peradaban Pasuruan sebagai sebuah lanskap intelektual, artistik, spiritual, sekaligus kosmopolitan. Jika Pasuruan sendiri diibaratkan kitab, sebaik-baik nasibnya adalah dideres dengan bernas.
Pada akhirnya, nderes tidak hanya soal membaca teks. Ini adalah cara memandang dan mengalami dunia; sebuah lelaku untuk khusyuk lebih lama bersama pengetahuan, membuka percakapan dengan risalah yang hidup sebelum kita, dan menyiapkan ruang bagi peradaban yang akan datang sesudah kita. 
Maka, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

24 Safar 1448 H

Biennale Santri
+ posts

Komunitas kebudayaan

Biennale Santri

Komunitas kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *