Membedah “hyper” dalam hyperabstract
oleh Wahyu Nugroho (artikel 2/7)
Mengurai kesalahpahaman
Sering kali, orang salah paham ketika mendengar istilah “Hyperabstract”. Banyak yang langsung mengira ini adalah jenis lukisan abstrak yang “lebih hebat” dari yang lain, semacam versi super dari abstrak. Ada pula yang menganggap saya hanya ikut-ikutan tren penamaan. Padahal, bagi saya, istilah ini bukan soal keren-kerenan istilah, apalagi upaya untuk menciptakan aliran baru. Hyperabstract adalah cara saya memberi nama pada proses penciptaan yang saya jalani sendiri, yang berangkat dari pengalaman panjang, kegelisahan teknis, dan perenungan batin.
Saya sadar, kata “hyper” memang sering dikaitkan dengan sesuatu yang berlebihan atau ekstrem. Dalam bahasa sehari-hari, kita mengenalnya lewat istilah seperti “hiperaktif”, “hipertensi”, atau “hiperinflasi” yang semuanya punya konotasi negatif. Tapi di sisi lain, dalam istilah seperti “hyperlink” atau “hiperbola” dalam matematika, makna “hyper” menjadi lebih netral dan teknis. Dalam konteks Hyperabstract, saya memakai kata itu bukan untuk menyatakan keunggulan, tapi untuk menunjukkan bahwa pendekatan ini menyeberangi batas umum dalam seni abstrak yang selama ini kita kenal.

Judul: Hyperabstract 29032025
Hyperabstract bukan tentang membuat karya yang lebih rumit atau lebih ekspresif dari abstrak biasa. Yang saya maksud dengan “hyper” justru berada dalam cara kerja dan prosesnya. Ia melibatkan dua tahap penting.
Tahap pertama
Proses pada tahap spontan, di mana saya membiarkan intuisi bekerja tanpa intervensi pikiran sadar. Di sini, sapuan kuas, garis, atau bentuk muncul tanpa rencana. Saya tidak berpikir tentang hasil akhir atau makna, hanya mengikuti arus batin dan energi visual yang mengalir begitu saja.
Tahap kedua
Fase yang sangat berbeda: tahap teknis dan reflektif. Di sini, saya kembali ke bentuk-bentuk yang telah muncul secara spontan tadi, dan mulai bekerja dengan disiplin tinggi. Saya koreksi komposisinya, saya perkuat strukturnya, saya detailkan warna dan ruang. Saya bekerja seperti pelukis realis yang sangat teliti dan sabar. Di sinilah sebenarnya letak “hyper”nya. Bukan karena bentuknya terlihat luar biasa, tapi karena ia lahir dari ketegangan antara kebebasan total dan kendali penuh.
Membangun relasi
Proses ini menuntut kesabaran yang tidak singkat. Sering kali saya bekerja relatif lama pada satu kanvas, bukan karena saya bingung atau kehilangan ide, tapi karena saya membangun relasi yang perlahan dan dalam dengan karya itu sendiri. Saya tidak memandang lukisan sebagai objek yang harus ditaklukkan, tapi sebagai teman dialog yang bisa membimbing saya pada bentuk yang jujur. Maka, menyelesaikan karya bukan soal kapan saya merasa puas, tapi kapan saya merasa hubungan itu cukup matang untuk ditinggalkan.
Proses keterlibatan penuh
Ada orang yang menganggap karya teknis cenderung kaku dan dingin. Tapi menurut saya, kehangatan dalam karya tidak selalu muncul dari simbol-simbol emosional, narasi personal, atau gaya ekspresif. Ia bisa lahir dari proses yang intens dan jujur, dari cara seorang perupa memperlakukan karyanya seperti menumbuhkan sesuatu yang hidup dengan cinta, ketelitian, dan terkadang, penderitaan. Justru di karya-karya Hyperabstract inilah saya merasakan kehadiran batin saya secara paling kuat. Karena setiap goresannya tidak sekedar hasil spontanitas, tapi juga hasil perhatian panjang yang sabar dan sadar.
Dua kutub abstrak
Dalam sejarah seni abstrak, kita bisa melihat bahwa banyak pendekatan yang lebih condong pada satu kutub: ada yang murni spontan, ada yang geometris dan sistematik. Tapi hampir tidak ada pendekatan yang mencoba menjembatani keduanya dalam intensitas yang setara. Di sinilah saya merasa Hyperabstract memberi jalur alternatif. Ia tidak menawarkan bentuk baru, tapi cara berbeda terhadap bagaimana karya diciptakan dan bagaimana kita menjalin hubungan dengannya.
Ini bukan aliran
Hyperabstract bukan sebuah aliran yang ingin saya sebarkan. Ia adalah ruang pribadi, cara saya memahami seni sebagai praktik eksistensial. Saya tidak mengejar makna tetap, tapi justru membuka ruang bagi makna yang tumbuh perlahan. Saya percaya, seni bukan tempat untuk merumuskan kebenaran mutlak, tapi ladang tempat kita menyemai pertanyaan-pertanyaan yang terus bergerak.
Karena itulah, alih-alih Hyperabstract penguatan dari seni abstrak, tapi perluasan jalur. Ia mengajak kita untuk tidak berhenti di spontanitas sebagai tujuan akhir, tapi justru menjadikannya sebagai awal dari perjalanan penciptaan yang lebih sadar. Bagi saya, bentuk visual bukan semata hasil ide, tapi juga cermin dari bagaimana kita menyeimbangkan rasa dan nalar, membiarkan kesalahan tumbuh menjadi kemungkinan, dan melihat kekacauan sebagai petunjuk bagi keteraturan yang baru.
Masa depannya
Saya menyadari, suatu hari istilah ini bisa jadi ditinggalkan, ditafsirkan berbeda, atau dikembangkan oleh orang lain. Saya tidak masalah. Bagi saya, nama hanya pintu masuk. Terpenting adalah kesadaran yang menyala di baliknya: bahwa berkarya adalah cara saya berdialog dengan dunia, dengan batin saya sendiri, dan dengan waktu yang terus berjalan. Seperti hidup itu sendiri, proses itu tidak selalu logis, tidak selalu selesai, dan tidak selalu harus dipahami secara tuntas.
Karena itulah saya menyebutnya Hyperabstract bukan sebagai label yang membatasi, melainkan penanda sebuah medan kerja yang senantiasa terbuka, lentur, dan terus bergerak. Ia bukan sistem yang ingin saya paksakan kepada siapa pun, melainkan jalan sunyi yang saya pilih untuk merawat relasi antara intuisi dan kesadaran.
Setiap lukisan, saya sadari tidak saja berkutat pada meletakkan warna dan bentuk, melainkan juga menanam waktu, keraguan, kesabaran, dan kadang rasa tak berdaya yang diam-diam menjelma menjadi daya penciptaan. Saya sadar, tak ada satu pun karya yang benar-benar selesai; yang ada hanyalah momen ketika kita berhenti menyempurnakannya.
Keberterimaan
Maka bagi saya, Hyperabstract adalah cara untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses menjadi. Sebuah pengakuan bahwa dalam berkarya, kita tidak sedang mencari jawaban yang pasti, tapi menyusuri kemungkinan yang terus mengalir – seperti hidup itu sendiri: tak utuh, tak mutlak, tapi selalu menawarkan ruang untuk dijalani, direnungi, dan disempurnakan dalam perjalanan panjang batin seorang perupa.
Demikianlah…
Lanjut ke artikel ke 3. Membedah “Abstract” dalam Hyperabstract
Di bawah ini materi telah disampaikan pada saat diskusi “Hyperabstract”
Pameran Mini Art Malang (MAM) :
Senin, 4 Aguatus 2024
1. Hyperabstract Gaya Dan Wacana
2. Membedah “Hyper” dalam Hyperabstract
3. Membedah “Abstract” dalam Hyperabstract
4. Hyperabstract sebagai Jalan Tengah
5. Hyperabstract Antara Intuisi dan Kesadaran Artistik
6. Intuisi dan Entitas Non-Fisik Dalam Proses Hyperabstract
7. Intuisi sebagai Fondasi Kreativitas dalam Hyperabstract
Wahyu Nugroho adalah penulis dan seniman yang menggelorakan seni drawing di Pasuruan sebagai salah satu bentuk kreativitas demokratis. Melalui teknik pensil sederhana hingga eksperimen Hyperabstract, ia mengubah seni menjadi gerakan komunitas yang inklusif, serta menjadi inspirator seni bagi banyak pemula.
Terus Berkarya…Hiperabstrak suatu perjalanan melintas batas pribadi yang hakiki ,termatrei sah pada jalan manusia sejati.😍
Terima kasih, kawan Irdjik… kata-katamu seperti suluh yang menyalakan semangat. Biarlah hiperabstrak itu jadi jejak, menuntun kita menembus batas, agar perjalanan ini makin sahih di jalan kehidupan