BENGKELBUDAYACANGKRUKGAYAIDESOSIALSPIRITUAL

Milik’i Upo: Pertautan Dimalam Lailatul Qodar(t)

Oleh: Mocceko

Suatu ketika pada malam pitulikuran bulan Ramadhan 1446H, pada Rabu 26 Maret 2025. Miliki Upo digelar. Bertempat di Grati desa Kalipang, kabupaten Pasuruan. Dirumah Sjafril. Sampai disana meski dalam kondisi hujan lebat beserta petir, kita makin terheran-heran dan barulah saling mbongkar kedok. Mas Yudha yang pertama kali nyeletuk: “Lahyo Mosok Sjafril ajak-ajak buber seniman cuma gini-gini aja. Ahire tak jaluk gawekno poster. Lek gak ono postere, arek-arek gak budhal”. Disambung: “Ojok, Ibuk moreng-moreng” kata Sjafril mringis sepet. Sambil cengengesan dilanjutkan: “Mari sahur dadakno lakok dikirim temen postere, kari kuratoriale, sampean iki enak-enak ngopi ndolek ae penggawean jare Sjafril”. Kata Bapak Yudha sembari cengengesan menambahkan cerita. Kita pun melanjutkan gojlokan gak penting.

Nampang sebelum acara inti “Miliki Upo” (dok.Garis)

Pagelaran dadakan seperti tahu bulat itu, dibuka dengan pembacaan puisi oleh Mocceko dengan iringan musik dari petikan gitar Ilham Afrizal, puisi yang bercerita soal bayangannya dunia yang utopis dengan realitas dunia yang terjadi.
Kemudian Pak Dosen Kurator Yudha, memberikan sambutan Miliki Upo, “dengan tema Lailatul Qod(art) yang menjadi pemantik dalam malam pitulikuran ini, semoga dengan malam Lailatul Qodart ini, segala amal ibadah religius kita diterima oleh Allah SWT, dan ritual berinraksi sosial melalui jalur seni-senian ini meskipun secara sederhana mampu berkesan untuk mempererat pertautan artistik agar lebih bersyukur” tuturnya.
Disusul statement dari para seniman, ada Samo Forawa, Jakf_art, yang dimana intinya ini adalah jagongan yang berfaedah dan nyeni,”ungkap mereka.
Ada juga Mas Rozi alias Teller, sebagai warga berkelakar, “bahwa Miliki Upo menjadi gerak yang beda dalam perayaan malam pitulikuran pada umumnya, karena memang orang-orang yang terlibat tidak umum”.

Sesi foto bareng setelah acara inti “Miliki Upo”. (dok. Garis)

Miliki Upo memang diisi oleh artis-artis lokal, diantaranya Garis Edelweis, Jakf_art, Samo Forawa, Sjafril, Madjid, Mocceko, dan Pak Dosen Yudha sebagai Kurator. Perlu juga diketahui bahwa Mas garis, sang seniman agung itu, justru memilih job sebagai dokumenter saja. Yang terhenyak karena ada kucing berjenis mujaer. Nemen!!!
Miliki Upo sebenarnya hanya acara buka bersama, sebagaimana bukber pada umumnya. Namun karena ini yang bikin acara para seniman, ya ujug-ujug saja. Tidak ada rangkain acara tertulis, Misalnya apa yang akan ditampilkan, Siapa yang akan tampil. Semuanya terjadi secara spontanitas saja, pada waktu terselenggara itu. Meski begitu, segala hal yang terjadi, berjalan harmonis, selaras, dan menjadi orkestra dalam perayaan malam pitulikuran. Ditengah kehangatan setelah hujan badai reda, kita mulai merelaksasi dengan bermain catur. Garis diminta untuk menorehkan goresannya pada perangkat komputer tuan rumah. Yudha melakukan sketsa spontan dengan objek Garis dan Sjafril yang tegun didepan layar dalam ruang kurang lebih 3x2meter. Beberapa bergenjreng ria, membaca buku sambil diskusi tipis alih-alih para kritikus seni.
Miliki Upo bukan hanya sekadar diksi, tapi juga sebagai laku ketawadukan. Seperti Sang Tuan rumah, yang selalu menyebut rumahnya sebagai kandang.

Mocceko
Penyair muda yang tinggal di dusun yang gak bersusun, kadang bersosial media, kadang bermasyarakat tapi secara mutlak warga dunia. | + posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *